MY LOTUS

MY LOTUS

Kamis, 15 Desember 2011

Cyberspace

The MoonCyberComunity begitulah nama salah satu komunitas pengembangan diri di MoonCyber Senior High School. The MoonCyberComunity merupakan wadah bagi mereka yang merasa tidak mampu hidup tanpa kehadiran deretan teknologi canggih yang membuat semuanya serba mudah dan praktis. Komunitas pecinta teknologi ini merupakan jenis baru dalam EkstraMoon karena baru dibentuk sekitar satu tahun yang lalu. Dengan kata lain anggotanya yang sekaranglah yang menjadi angkatan pertama. Semuanya berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu anggota The MoonCyberComunity.
Hampir seluruh penghuni Mooncyber seolah mendewakan segalanya atas nama teknologi. Namun hal ini tidak dirasakan oleh dua orang penghuninya yang satu ini, Duo Partner ini lebih memilih mengapresiasi diri mereka di dalam bidang yang mereka suka apalagi kalau bukan seni. Menurut mereka berdua, seni mampu mencairkan suasana, mampu mengubah perasaan mampu menjadikan semuanya indah sekaligus buruk sekalipun, permainan feel.... Begitulah Zeny dan Cinka. Meskipun keduanya menyukai hal berbau seni, tapi keduanya bisa dibilang mempunyai jalan masing-masing, Zeny dengan pena dan kertasnya ia lebih senang bermain feel dengan kata-kata, entah dalam puisi ataupun jenis karangan lainnya, dia juga pengagum benda yang disebut novel, satu-satunya jenis buku yang diistimewakannya. Sedangkan Cinka lebih mengagumi keagungan sang biola, ia lebih menyukai disetiap permainan feel yang dirasakan ketika melodi-melodi itu muncul dari setiap gesekan lembut senar penuh binar-binar keindahan perasaan itu.
Antara kata-kata yang berpadu menjadi susunan makna dalam agungnya puisi dalam nikmatnya lembaran karangan tinta pencetak makna dengan sang kertas menjadi saksi guratan maknanya, bukan sekedar seni menulis, tapi seni yang membuatnya mampu merasakan permainan feel yang menakjubkan..... ketika itu... alunan biola menutup keempat indera, mengizinkan indera pendengaran yang melakukan tugasnya, meresapi, menghayati, dan mengizinkan imajinasi beserta perasaanmu berbaur dalam jajaran keindahan melodi dengan pesan yang dibalut irama, harmoni tiada tara....
Namun apa daya, karena dunia sekarang adalah dunia digital, dimana semuanya harus menggunakan teknologi, dimana semuanya harus menggunakan peralatan multimedia, bukan lagi merupakan suatu kewajiban tapi menjadi sebuah kebutuhan. Karena itulah setahun yang lalu, ketika TheMoonCyberComunity berdiri, Cinka dan Zeny mendaftarkan diri mereka ke dalam komunitas penggila komputer itu.

Komunitas yang dibimbing oleh Pak Watson ini awalnya hanya terdiri dari beberapa orang saja yang tentunya mereka adalah penggila dunia IT, terkecuali Cinka dan Zeny yang hanya bermodal penasaran sekaligus kebutuhan akan materi IT yang semakin hari senantiasa mengalami progress.
Pertemuan pertama kalinya, hari sabtu pukul 10.00 di bawah BigTree, begitulah siswa MoonCyber memanggilnya karena pohon itu terlihat besar dan sudah tua. Hari itu, suasana MoonCyber Senior High School tampak sepi karena hari sabtu merupakan hari tidak wajib, jadi hanya bagi mereka yang mempunyai kegiatan pengembangan diri saja yang berhak masuk, selebihnya mampu menikmati waktu istirahatnya di rumah masing-masing. Pertemuan pertama saja sudah memberi kesan wah pada rasa sabar yang harus diperjuangkan untuk menunggu sekitar dua jam lamanya. Hingga ketika jarum jam berdetak dan menduduki angka 12.15, dari kejauhan tampak Pak Watson datang dengan mengendarai motornya. Pertemuan pertama kalinya dalam komunitas ini digunakan sebagai pembuka kegiatan berikutnya, ya selayaknya seperti perkenalan, visi misi, latar belakang memilih gabung dengan komunitas ini.
Selang setelah beberapa bulan The MoonCyberComunity ini berjalan, akhirnya entah kapan pemilihan berlangsung, yang dinobatkan sebagai ketuanya adalah Jensans dengan wakil Verdana serta sesi software AlsVille dan tidak lupa sesi peralatan Briannic. Setiap sabtu, Cinka dan Zeny berusaha meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan pengembangan diri lebih tepatnya dibidang teknologi. Seiring dengan berjalannya waktu, setiap sabtu berjalan dengan penuh tanda tanya yang entah hanya untuk Cinka dan Zeny atau mungkin untuk mereka juga? Sepertinya mereka sudah mahir, sehingga otaknya seolah telah terhubung layaknya chip microprocessor yang dengan cepat memproses serangkaian input data. Beberapa pertemuan lebih banyak menunggu daripada berelasi dengan materi itu sendiri, karena sepertinya Cinka dan Zeny lebih cepat merasa jenuh dibanding dengan jensans,verdana,AlsVille,serta Briannic. Tak perlu dipertanyakan lagi, kalau mereka memiliki kesenangan yang bertolak belakang, jika keempat manusia penggila komputer seperti jensans,verdana,alsville, serta briannic merasa sangat nyaman jika harus berinteraksi dalam jangka waktu yang lama di depan monitor dan standby dengan mouse dan keyboard dalam jangkauan kedua tangan, hal ini beda dengan Cinka dan Zeny yang dapat dengan mudahnya merasa jenuh dengan keadaan seperti itu, akhirnya kedua partener itu memutuskan untuk menemukan kesenangannya tersendiri di dalam lab itu, diantaranya dengan  berbincang-bincang yang pada akhirnya akan menimbulkan lelucon konyol yang setidaknya mampu mengurangi kejenuhan berlama-lama duduk dan menatap benda mati yang penuh dengan software itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak pelajaran yang didapatkan oleh Cinka dan Zeny di dalam komunitas itu, meskipun prosesnya pemahamannya cukup lama, tidak secepat jensans,verdana,AlsVille, dan briannic. Namun bukan berarti keenamnya mampu dengan begitu saja berpadu dalam satu kesepakatan, di dalam komunitas itu sering sekali terjadi missunderstanding, seperti halnya ketika pelaksanaan kegiatan di lab, seringkali, Cinka dan Zeny merasa kesal, entah apa alasannya, satu sisi mereka berenam tidak mampu berbaur satu sama lain, verdana,AlsVille, briannic dan jensans mereka senantiasa berbincang satu sama lain, tapi jika dengan Cinka dan Zeny, rasanya sulit untuk menyatukan argumennya.
Persoalan belum selesai sampai disitu, waktu membawa The MoonCyberComunity kepada berbagai peristiwa yang sangat rumit. Ketika semuanya naik ke kelas XI, ternyata Pak Watson tidak lagi menjabat sebagai pembina The MoonCyberComunity, melainkan diganti oleh Bu Sena yang kebetulan beliau juga membina satu kegiatan pengembangan diri lagi, yaitu The Miracle Of Technology, bedanya pengembangan diri The Miracle Of Technology sudah lebih fokus dalam bidang IT, sehingga nama mereka sudah tertera di berbagai Universitas, untuk The MoonCyberComunity karena masih baru, sehingga belum ada kejuaraan yang diraihnya, baru kegiatan belajar bersama antara siswa-siswa yang merasa enjoy dengan komputer. Peralihan kekuasaan itu sama sekali belum diketahui oleh semua anggota The MoonCyberComunity termasuk ketua dan wakilnya. Semua itu berawal dari pesan singkat yang dikirim oleh Jensans ke seluruh anggota untuk berkumpul di bawah Big Tree saat jam pulang sekolah di hari kamis.
Paginya, Cinka dan Zeny datang berbarengan, di kelas, mereka berdua berbincang-bincang tentang Pesan Singkat Jensans.
“Eh cin, mau dateng ga ntar siang?” tanya Zeny memulai dialog antara keduanya.
“Hehe sejujurnya aku males Zen...gatau kenapa males aja...” jawab Cinka
“Iya sih, tapi ini kan pertemuan pertama di kelas XI, hitung-hitung pendahuluan aja, hehe kalo ke sananya males gapapa. Eh..” tambah Zeny.
“Iya juga sih Zen, hitung-hitung mau berubah, selama ini kan kita berdua gapernah aktif, ya maksudnya kita emang sering datang, tapi jarang sekali membuka suara untuk beride.” Lanjut Cinka.
“Jadi dateng nih nanti Cin..?” Tanya Zeny sekali lagi untuk memastikan.
“Iya ......... kamu juga ya Zen?” Cinka membalik pertanyaan Zeny.
“Iyalah, kan you with me..” Jawab Zeny santai.

            Pelajaran demi pelajaran dilaluinya hingga tidak sadar bahwa bel pulang bagi kelas Reguler sudah memanggil siswa untuk segera menutup semua pelajaran hari ini. Tapi tidak bagi Cinka dan Zeny, keduanya masih mempunyai urusan dengan The MoonCyberComunity siang ini.
            Setelah menunggu selama kurang lebih satu jam setengah, akhirnya pukul 16.00 WIB, semuanya hadir di Bawah Big Tree. Ketika semuanya bergabung di bawah Big Tree, ada satu tanda besar yang tersirat di benak Cinka dan Zeny.. “Mengapa jumlah anggotanya banyak? Mengapa ada juga anak kelas XI yang datang, padahal sewaktu kelas X, di hari sabtu yang datang hanya berenam saja?” tiba-tiba.... ada tiga orang senior duduk dengan tenangnya di barisan paling depan. Akhirnya Jensans, dan tiga orang senior itu diminta untuk duduk di depan dan menerangkan visi misinya.
“Adek-adek semua saya di sini sebagai ketua dari The Miracle of Technology, sekarang saya ingin dua komunitas ini menjadi satu, namun saya tidak ingin anggotanya sembarang orang, saya ingin mengadakan tes untuk memilah siapa saja yang layak berada di komunitas ini, terutama bagi anak-anak kelas X termasuk juga kelas XI, walaupun sudah bergabung selama setahun di The MoonCyberComunity.” Ucap Adlan dengan tenangnya walaupun kalimatnya seketika mengubah suasana dan raut wajah semua anggota yang bisa dibilang merasa bingung.
“Saya tidak setuju dengan keputusan kakak, saya rasa di dalam komunitas ini tidak semua anggotanya mahir dibidang IT, kebanyakan dari mereka masuk ke dalam komunitas ini untuk menjadi bisa, sehingga bekal pengetahuan dan pengalamannya saya rasa belum cukup untuk mengikuti tes itu.” Bantah Jensans.
“Yasudah, sekarang gini aja deh. Kalian semua pilih saya atau Jensans?” tegas Adlan.
Sampai tiga cuplikan dialog tersebut saja, Cinka dan Zeny masih bingung dengan situasi ini, siapa mereka semua? Jika memang ibu guru yang duduk di depan itu adalah pembina baru, tapi mengapa harus ada mereka semua? Mereka hadir tidak masalah, tapi satu kesan yang ditangkap oleh Cinka dan Zeny saat itu adalah Sosok Adlan.
Melihat suasana menegang, Ibu Sena menengahi keduanya.
“Yasudah, ibu pikir kalian tidak usah berdebat lagi, toh kalian bentar lagi lengser, tapi ibu setuju dengan argumen Adlan. Karena menurut ibu, tes itu berguna untuk pengelompokan labirin.” Ucap Bu Sena.
“Begini anak-anak, apa yang disampaikan kakak kelas kalian tadi ada benarnya, argumen A’ Adlan benar, berhubung The Miracle of Technology sudah dikenal di berbagai universitas, jadi ada baiknya semua anggota disaring berdasarkan kemampuannya terlebih dahulu. Karena saya akui kemampuan saya juga masih dibawah A’Adlan. Mungkin pelaksanaan tesnya akan dikabari lagi, Ibu rasa pertemuan kali ini sampai di sini terlebih dahulu.” Jelas Bu Sena.

            Di tengah-tengah kebingungan itu, Jensans menyuruh anggota The MoonCyberComunity untuk berkumpul sejenak, dia akan menjelaskan semuanya.
“Mohon maaf ya, sebelumnya saya belum tahu kalo pertemuan kali ini akan seperti ini, saya juga baru tahu disini kalo sepertinya kedua komunitas ini akan digabung, tapi semuanya akan baik-baik saja kok, soal tes akan dikabari lagi.” Jelas Jensans.
            Waktu menyelamatkan Cinka dan Zeny, karena sudah pukul 17.00 akhirnya mereka berdua pamit lebih dulu, meninggalkan pertemuan pertama yang membingungkan, mengkhawatirkan, dan cukup mengesalkan. Langkah keduanya gontai menuju gerbang utama, keduanya masih terdiam dalam bingung, keduanya masih merasa khawatir dengan apa yang mereka saksikan di pertemuan tadi, tentang penggabungan, tes, senior, dan lain sebagainya.
            Cinka maupun Zeny masih tenggelam dalam diam, keduanya hanya melambaikan tangan dan pulang dengan arah yang berlawanan. Di kendaraan umum, Zeny masih terus berpikir setiap langkah menuju rumahnya, seolah otaknya tidak ingin berhenti memikirkan peristiwa siang tadi. Ada satu feeling yang ia rasakan, ini semua bisa menjadi akhir dari perjuangannya bersama Cinka dalam mencoba IT. Karena besok hari masih terus berjalan dengan pelajaran lainnya, Zeny putuskan untuk menyudahi pemikiran itu.
            Keesokan harinya Cinka maupun Zeny mendapat kabar bahwa tesnya akan dilaksanakan  14 September 2011 tepatnya seminggu setelah pertemuan di bawah Big Tree dengan hari yang sama. Seketika itu, mood keduanya langsung turun. Hanya diam dan anggukan kecil bertanda mereka akan berusaha untuk tes itu.
            Sadar  bahwa tes itu bukan main-main, akhirnya Cinka dan Zeny mengusahakannya. Hari minggu yang merupakan jadual Zeny ke gramedia untuk hunting novel, sekarang berubah menjadi hunting buku tentang IT, yang tadinya tujuannya ke gramedia langsung ke arah kanan tempat berbagai novel tertata rapi, sekarang berubah haluan menjadi ke kiri tempat beragam buku tentang dunia IT berjajar dingin. Bingung itulah yang ada dibenak Zeny, jika saja saat itu dia harus memilih 10 novel, pasti dia akan cepat mendapat novel apa saja yang bagus untuk dibaca, tapi sekarang? Ia berdiri di depan beragam buku-buku yang bahkan tidak pernah dikunjunginya meskipun setiap minggu ke gramedia, buku-buku yang bahkan berniat saja tidak untuk menyentuhnya, membaca sinopsisnya. Berhubung rencananya dua komunitas itu akan dikelompokkan dalam 4 labirin, akhirnya Zeny mencari buku yang sesuai dengan keempat labirin tersebut, karena sejujurnya dia masih belum tahu labirin apa yang akan dia pilih nanti. Buku pemrograman pascal, buku Dreamweaver, buku photoshop, dibelinya, semuanya hampir berlabel “bagi kaum awam, bagi pemula, pasti bisa!” setelah ketiga buku itu dibukanya di rumah, merasa hanya langkah-langkah saja, akhirnya Zeny browsing teori, copas dan copas, akhirnya dokumen itu menjadi kurang lebih 100 halaman, diprint out, dijilid dengan cover depan NEVER SAY NEVER.Begitu pula Cinka, ia mencari materi dari internet, meminta ayahnya untuk mengajarinya.

            H-4 belum ada satupun materi yang tersimpan di memori otak Zeny, kecuali buku photoshop, dari bab 1-bab terakhir, ia mencoba langsung mempraktekannya, meskipun saat buku ditutup tidak tahu langkah selanjutnya. Lagu never say never memang memberi semangat dan cukup mempertahankan semangat Zeny. Tapi itu semua mustahil. Tidak mungkin mendalami ketiga buku itu selama 3 hari. MUSTAHIL! Bantah pemikiran Zeny. Di rumah Cinka, Cinka juga melakukan apa yang dilakukan Zeny. Dia berusaha mengotak-ngatik photoshop, free pascal, dreamweaver.
            H-1 Klimaks bagi keduanya, setelah sekitar satu minggu tidak bisa tidur nyenyak, akhirnya mereka berdua berencana bernegosiasi dengan Jensans, karena Jensans tidak mau datang ke kelas XI IPA B, akhirnya Cinka dan Zeny yang datang ke kelas dia. Sejujurnya, diantara keduanya tidak pernah berpendapat selama ini, tidak pernah buka suara, tapi kali ini, klimaks, harus ada argumen yang dikeluarkan dari mereka berdua. Zeny yang memang tidak pandai bicara, jarang bicara, dan Cinka yang lebih lumayan dibanding Zeny dalam mengemukakan pendapatnya. Cinka pun memulai dialog bertiga itu.
“Jen, tesnya kamis?” ucap Cinka memulai pembicaraan.
“iya, persiapkan diri kalian yaa..” jawab Jensans.
“Jen. Semuanya dites?” Zeny mulai angkat bicara.
“Iya, ga susah kok kalau kalian belajar.” Jawab Jensans santai.
“Emang ga susah kalo belajar, semuanya juga begitu, tapi ini beda.. sekali lagi beda...!” tambah Zeny.
“Sama kok, kayak tes tertulis biasa.” Lagi-lagi jawaban Jensans membuat ubun-ubun Cinka dan Zeny nyaris meledak ditempat mereka berdiri saat itu.
“Begini ya, saya sudah berusaha sekuat kemampuan saya, saya juga sudah beli 3 buku yang tebalnya cukup buat nimpuk maling, ketiga buku tersebut dari 3 program yang berbeda, dalam waktu yang hanya tinggal hitungan jam saja.... !” jawab Zeny
“iya benar.!” Jawab Cinka.
“Yasudah sekarang mau kalian apa? Tidak mau dites?” tanya  Jensans.
Keduanya hanya hening, baik Cinka dan Zeny masing-masing tidak mampu mengendalikan emosi, akhirnya mereka mengakui pernyataan Jensans itu. Setelah lama berdebat kusir, mereka akhirnya menemukan titik terang dari semuanya. Berbicara dengan A’Adlan.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!” ucap Cinka dan Zeny serentak.
 “Kami ingin semua ini sudah sampai disini, kami tidak cukup kuat seperti anda. Kami juga bukan chip yang mampu dengan mudahnya memproses sekian banyak data, dan kami masih manusia biasa, yang merasa kesal karena semua ini terjadi begitu saja, tanpa persetujuan mayoritas, seolah-olah setiap sabtu pagi hingga siang selama satu tahun itu, kegiatan The MoonCyberComunity tidak ada apa-apanya? Seolah-olah kami berdua memang dari awal bukan anggota komunitas ini sehingga harus dites? Dan setelah dites, kami diharuskan fokus pada satu labirin itu? Untuk membawa nama baik agar dikenal universitas? Bukan itu tujuan kami selama ini berada di dalam komunitas ini, bukan itu tujuan kami di sini.... bukan!” Cinka dan Zeny menjelaskan secara bergantian.
“Yasudah saya akan memasukkan kalian ke dalam labirin DG tanpa tes, karena kalian sudah mengikuti komunitas ini selama satu tahun.” Jelas jensans masih dengan santainya.
Tanpa menunggu kalimat itu selesai, Cinka dan Zeny sudah beranjak menuju kelas mereka, mereka tidak peduli dengan apa yang ada dan terjadi!
            Bel pulang berdering memanggil semua siswa untuk segera pulang, Cinka maupun Zeny cepat-cepat pulang, keduanya masih butuh waktu menormalkan mood mereka.
            Sesampainya dirumah, Cinka langsung menutup pintu kamarnya dan mengambil biola kesayangannya, memainkan semua nada yang ada dibenaknya, penuh luapan emosi penuh perasaan yang membuatnya sangat klimaks. Hal yang sama dilakukan oleh Zeny, tanpa pikir panjang, di kamar ia menarik satu lembar hvs. Mengambil satu pulpen dan mulai tenggelam dalam semua emosi.



SEMANGAT IMAJINASI SEMU

Teknologi.......
Aku tak pernah berharap aku menguasaimu..
Aku tak pernah berharap aku mampu menaklukanmu
Aku hanya berharap usahaku untuk menyukaimu kau izinkan..
Aku hanya berharap menyukaimu sedikit saja
Aku hanya berharap usahaku selama ini membuka jalan untuk mengenalmu, mampu menggunakanmu.
Teknologi.....
Aku hanya berharap semangatku selama ini menyingkap tabir ketidakmampuanku
Aku hanya berharap aku mampu menjadi sesuatu yang mampu berelasi denganmu
Aku mengusahakannya meski tanpa kata mahir di kedua telapak tanganku
Meski tanpa kata canggih di genggamanku
Aku mengusahakannya.....
Aku hanya ingin menjadi sahabatmu....
Menjadi satu padu dengan duniaku, duniamu, dunia ini yang canggih dan modern
Aku sadar....
Usahaku semangatku harapan kecilku akan terhenti sampai disini.
Sampai ketika aku benar-benar menutup kesempatan untuk mengenalmu dan menyukaimu sebagai bidangku
Sampai ketika kesadaranku muncul...
Bahwa aku hanyalah seorang pengkhayal yang terlalu mengatasnamakan imajinasi.
Semangat imajinasi semu....
Aku tersenyum untuk kepergian semangatku untuk mencobanya
Aku bahagia untuk salam perpisahanku akan semangat ini


Terima kasih...
Karena telah mampu membuatku terbuai dengan semangat imajinasi semu dengan kata canggih
Aku biarkan semangat imajinasi semu ini memudar bersama waktu
Hingga aku mampu menemukan imajinasi yang sesungguhnya tentang betapa agungnya dirimu wahai teknologi
Pencapaian akal dengan sebuah kecanggihan
Masa dimana aku mengenalmu bukan sekadar syarat
Tapi sebagai bagian dari minatku.......


Bait-bait puisi yang tercipta tanpa sadar dengan seluruh emosi yang berkata dalam kata, berada dalam makna, dan tersimpan dalam keikhalasan. Semuanya berakhir sampai disini. Saya keluar........
Nada-nada biola yang dimainkan Cinka di kamarnya, mengantarkannya pada satu kata..   Saya Keluar........

            Waktu benar-benar mengubah semuanya. Cinka maupun Zeny sudah tidak respect lagi terhadap The MoonCyberComunity yang sekarang resmi berubah nama menjadi TMT The Miracle Of Technology. Karena UAS di depan mata, akhirnya baik Cinka maupun Zeny berusaha kuat untuk mendapat nilai terbaik di kelasnya, dan tidak peduli dengan kegiatan pengembangan diri apapun. Fokus belajar........ namun keduanya semakin tidak menyukai pelajaran TIK terutama HTML. Kembali ke awal, mereka hanya respect dengan seni, mereka tidak peduli sekalipun dunia ini mengatasnamakan IT disetiap sendi kehidupan. Begitu pula Jensans, Verdana,AlsVille dan Briannic yang kembali menjadi diri mereka penggila IT.
            Waktu terus berjalan, UAS pun selesai. Liburan semester ganjil menanti dengan sejuta kejutan yang diharapkan mampu merestart ulang otak yang panas dengan materi teori, praktek, dan masalah pengembangan diri. Sudah banyak siswa yang mulai merencanakan liburannya, begitu pula Cinka dan Zeny yang berencana melaksanakan liburan bersama untuk melepaskan semuanya. Mereka berencana berlibur ke lembang bandung. Di sela-sela perbincangan liburan di IPA B, tiba-tiba Pak Chil datang dan memberikan lembaran kertas yang tampaknya merupakan tugas libur semester ganjil. Serentak muka-muka yang berada di kelas seketika itu langsung mengeluh..
“Anak-anak, ini bapak bagikan yaah...” tegas Pak Chil.
“ Apaan tuh pak?” tanya salah seorang siswa