Dokter .... semua orang
tahu siapa dia? Seseorang berjas putih, mengalungkan stetoskop yang bergelut di
dunia medis, berkaitan dengan pasien, nyawa, keselamatan, sebuah kehidupan itu
sendiri. Hmmm.. anggapan orang pasti dokter itu bijak, cerdas dan lain
sebagainya, yang jelas masyarakat menilai waaah...... buktinya saja untuk
menjadi seorang dokter itu harus melalui proses yang panjang, lebih tepatnya
proses perjuangan. Bagaimana tidak, syaratnya saja harus memiliki nilai yang
diatas rata-rata.. bukan hanya nilai tapi harus siap dompet.. banyak yang
bilang kuliah kedokteran sangat mahal, belum lagi setiap harinya benar-benar
harus berkutat dengan buku yang sangat tebal.. IP nya harus tinggi, harus mampu
menjaga sumpahnya dan masih banyak lagi penilaian tentang dokter yang
seringkali ku dengar.
Namun, bukan itu
anggapan yang ku dambakan.. bukan.. aku ga mau jadi dokter yang hanya dipandang
karena ke-waah-annya, bahkan aku gamau menjadi
wah di mata masyarakat, aku gamau menunjukkan ini loh dokter, sedangkan
masih banyak di sekitarku yang menangis kesakitan, masih banyak rumah sakit
yang mengabaikan keselamatan, masih banyak mereka kaum berjas putih yang hanya
peduli dengan apa yang mampu pasien berikan, masih banyak mereka yang
mengabaikan sumpah mereka. Tuhaaaan.... aku bahkan ga mengerti apa yang salah,
apa manusia zaman sekarang sudah benar-benar kehilangan nuraninya? Apa mungkin
dokter zaman sekarang berlomba-lomba mencari reputasi demi membalikkan modal,
yaa kuliahnya kan mahal. Tapi apakah benar dokter seperti itu?
Demi Tuhan.... aku ga
akan pernah mau menjadi seorang dokter yang seperti itu, ga akan! Jangan sampe
ya Alloh... aku juga bingung kenapa aku sangat amat menginginkan jadi dokter..
aku juga ga ngerti kenapa sebegini yakinnya dengan cita-cita ini, padahal dulu
dari TK, SD, sampai smp kelas 1, cita-citaku masih berubah ubah, tapi sejak SMP
kelas 2 hingga detik ini dan seterusnya... aku yakin akan pilihanku menjadi
seorang dokter, bagaimanapun caranya.. harus berjuang!
Awal mula aku ingin
menjadi dokter, karena pada suatu ketika, aku ikut menemani papahku berobat ke
rumah sakit umum bersama mamahku. Saat itu papahku telah selesai operasi besar,
karena sebuah kejadian naas. Saat menunggu di ruang tunggu, aku benar-benar
merasa lelah, capek dan hampir pingsan, karena memang saat itu rumah sakit
sedang penuh-penuhnya. Dan inilah ceritanya...
Saat aku sedang
menenangkan diri dari rasa pusing yang melanda karena sumpek, akhirnya aku
memutuskan duduk bersama papah, tepat di depan loket. Sambil menarik nafas aku
berusaha duduk tenang. Tiba-tiba saja, aku melihat seorang ibu-ibu lari menuju
loket yang berada persis di depanku, ia menangis dan kalut, sambil membawa
sebuah map bertuliskan Askes. Dan apa yang ku saksikan? Pegawai itu, sedang bermain
games zuma. Ia dengan santainya berdiri, dan berkata “ Oh, ibu harus naik ke
lantai atas..” yaa hanya itu yang diucapkan pegawai itu. Tidak banyak bicara,
si ibu itu langsung berlari menaiki tangga, beberapa menit kemudian ibu itu
turun lagi, menuju loket yang tadi. Dan lagi-lagi apa si pegawai itu hanya
bilang “Oh begitu ya bu? Hmm ibu harus ke loket ke sebalah sana..” ibu itu pun
berlari ke loket yang satunya, begitulah seterusnya. Aku menghitung ibu itu
sudah bolak-balik lebih dari tiga kali, dan kali ini ibu itu emosi, menangis,
kalut di depan loket itu.
Seketika itu juga,
entah apa alasannya, aku nangis, aku ga sadar pipiku basah.. dan aku
benar-benar nangis... sampai papah memelukku.. aku ga peduli orang melihatku..
papah menenangkanku.. dan bertanya, “kenapaaa teeeh” aku ga bisa menjawab
lancar, aku berusaha menenangkan diri, mengurangi sesenggukan akibat nangis
tadi, menarik nafas dan mulai berucap, “aku kasihaan sama ibu yang tadi paah...
kenapa dia dimainin kayak gitu? Padahal kan di luar ada keluarganya yang
membutuhkan pertolongan, kenapaaa?” aku pun malah nangis lagi,.. papahku
menjawab, “Ya begitulah indonesia, kesehatan begitu mahal, rumah sakit rumah
sakit hanya melayani orang yang berduit, yaa kalo ga berduit ya keburu mati.” Mendengar
jawaban simple papah, aku malah justru menangis..Ingin rasanya aku
berdiri dan berkata, “mari bu saya bantu, mari saya periksa ke ruang saya..”
ingin rasanyaa aku berdiri sebagai dokter.. ga peduli ga peduli bahkan pihak
rumah sakit melarangku.. bukankah ini menyangkut nyawa? Hidup dan mati? Buat apa
sumpah itu? Bagaimana mungkin dokter-dokter yang ada tidak bergerak melihat
keadaan ini? MIRIS!!!
Mulai detik itu, aku
berjanji pada diriku sendiri.. aku berjanji untuk berjuang menjadi dokter.. dan
kebetulan entah mengapa aku memilih fakultas kedokteran ui sebagai targetku,
dan bertahun tahun kemudian hingga sekarang aku menjadi kelas tiga SMA,
pilihanku tetap sama.. fkui. Ya seorang dokter... Bukan karena jas putih dan
stetoskop, bukan karena panggilan 'dok'.Tapi aku hanya ingin, menjadi salah
bagian dari senyuman perjuangan hidup mereka yg kesakitan..aku hanya ingin
setidaknya mengurangi tangisan sakit yang ku dengar, aku ingin menolong mereka
dengan profesi.. Seorang dokter...hanya itu..
Alloh, bantu aku
mewujudkannya... bantu aku.. jangan tinggalkan aku sendirian.. jangan biarkan
aku berjuang sendirian... temani aku Alloh...AKU JANJI AKU AKAN BERJUANG DEMI
CITA-CITAKU ‘DOKTER’
#NEVERSAYNEVER
"I don’t care what anybody says, and I don’t care if no one believes in,
because I believe. I believe in my dream. Yes my dream. God always save
my dream, and I will try to get it.. And never give up.. Never!"
S E M A N G A A A T ! F K U I 2 0 1 3!
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...
ZENITHA MEIDA SARI