MY LOTUS

MY LOTUS

Jumat, 05 Agustus 2011

LAB RAHASIA (my big inspiration.....:D .)


Lab rahasia

          Rupanya dunia yang kini dipijaki oleh  Zechno seakan semakin aneh saja di matanya, entah mengapa.. apa mungkin mata Zechno yang perlu diinstall ulang, “oh tidaaaaaaaaak! Kenapa dunia ini selalu mengagung-agungkan teknologi..?”pekiknya dalam hati, saat ibunya yang sedang asik di depan notebooknya angkat bicara “ Zechno, kenapa sih kamu ga mengikuti bakat bapakmu sajaa? Lihat ayahmu , hebaat kan diaa, bisa menciptakan program-program mutakhir... sekarang lihat kamu Zechno, mendekati komputermu atau laptopmu saja kau sudah malas-malasan, ingat Zechno, saat ini adalah saat dimana teknologi menguasai dunia, jadi hanya mereka yang menguasainya yang mendapat jaminan dunia ini....” begitulah ucapan ibunya yang lebih dianggap sebagai desakan dan diskriminasi minat menurut Zechno.
 Zechno, dia hanyalah seorang pelajar di sebuah sekolah menengah atas yang bisa dibilang sekolah favorit di daerahnya, tapi kepribadiannya sangat amat bertolak belakang dengan semua yang ada, terutama dengan yang namanya teknologi... Di lain pihak, kedua orang tuanya selalu saja memaksanya untuk terus dan terus mempelajari teknologi... yaa, mempelajari sesuatu yang ia anggap membosankan. Betapa tidak, dalam diri Zechno hal-hal yang natural yang ia sukai, alam, petualangan, buku, kertas, pena, cat lukis, kanvas, dan lainnya. Dia menyukai alamiah dan juga seni... tapi ia dipaksa untuk menyukai teknologi juga?
          Hari-hari selalu menjadi flat menurut Zechno, jika saja dia bisa menambahkan sedikit saja rasa suka kepada hal yang bernama Teknologi, yaa komputer, laptop, segelintir program, dan kawan-kawannya. Satu ide yang ada di otaknya adalah ingin berlari dari dunia ini, tepatnya melarikan diri dari kecanggihan ini, namun semua itu mustahil, satu-satunya jalan ialah memang harus menyukai sedikiiiiiiit saja teknologi. Bisa dibilang pengorbanan, meninggalkan sesuatu yang ia sukai dan mencoba fokus menyukai sesuatu yang tidak ia sukai. Apa dunia hanya berpihak pada mereka yang canggih, berarti Zechno tidak mendapat satu ruang pun?
          Bayang-bayang ke-gaptekan kini selalu membuatnya terhenyak dalam sesuatu yang jelas-jelas membuatnya sesak, entah mengapa semua itu seakan berpacu lebih cepat dari yang ia pikirkan, membuat otaknya harus ekstra keras berpikir dari semestinya.. “ Kenapa ayah harus menjadi seorang programer? Mengapa ibuu juga sangat menyukai teknologi? Apa mereka disatukan oleh yang namanya teknologi? Lalu mengapa aku terlahir ke dunia ini dengan ketidaktertarikan terhadap hal-hal yang berbau teknologi? Atau mungkin ini kutukan?! Ah ga mungkiiin? Ini kan zaman canggih Zechno, jangan konyool!”pikirannya mulai mengacak-ngacak otaknya sendiri.. “ Ku mohon berhentiiiiiiiiiiiiiiii!” dia berteriak di dalam kamarnya, ini sudah sulit dibendung lagi olehnya, tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil kasar kuas yang ada di meja lukisnya, kemudian duduk dengan kegelisahan di depan sebuah kanvas yang sepertinya sudah siap menjadi korban amukannya. Seolah ada yang bergejolak dalam dirinya, tanpa perenungan ide atau pun inspirasi, tangannya langsung menari di atas kanvas itu, yaa hanya dengan kuas yang kini ia genggam erat. Entah mengapa lukisan yang ada di hadapannya saat ini adalah sesuatu yang ia benci.. komputer.! Tentu saja komputer yang ini bukan sesuatu yang berada di dunia nyatanya sekarang, komputer yang ia lukiskan sangat penuh dengan khayal dan fantastis... senyuman pun mulai terpancar dari raut wajahnya yang entah sudah menjelma menjadi apa usai pergelutan emosi dalam dirinya sendiri.
          Malam itu seakan mencatat semuanya dalam rembulan yang terlihat redup, langit kelam tanpa cahaya dari bintang gemintang... Daaaan Zechno pun puas akan malam itu! Ia memaki sepuasnya... karena teknologi kini hadir di atas kanvas ituu! Ia sangat puaas! Tidak terasa, rasa kantuk pun segera menemani luapan emosi saat ia dengan semangatnya terus dan terus mencampurkan warna demi warna di dalam palletnya, peluhnya pun bercucuran, sekarang kantuk itu semakin ganas, ia sudah tidak kuat lagi, kelopak matanya seakan dibebani batu berat, ia pun tertidur pulas dengan kuas masih di genggaman. 

*masih ada lanjutannya yaa, do'akan biar menjadi  my first novel.... hehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar