Matahari yang kita pandangi setiap pagi
Silau keemasan pemandangan ketika mulai hadir di ufuk timur
Embun-embun yang mengisi kesejukan pagi
Membalut damai dedaunan hijau
Kawanan kupu-kupu dan lebah menari indah menyapa bunga
Beterbangan membawa nektar dan sarinya
Manis...... maniiis
Beterbangan membawa nektar dan sarinya
Manis...... maniiis
Alamku yang asri
Alam yang selalu tersenyum ramah pada penghuninya
Tak pernah meminta secuil pun belas kasihan
Alam yang tak pernah mengeluh
Menyembunyikan rasa sakit karena kita menyakitinya
Musim-musim itu seakan saksi
Musim-musim itu seakan saksi
Tangan ini yang selalu menyakitinya
Tangan ini yang menggenggam kekayaannya
Mengeruk, memusnahkan, lebur dalam keserakahan
Kicauan burung samar-samar merintih menangis
Menangisi langitnya yang sudah kehilangan birunya
Menyesali sarangnya yang hilang entah kemana
Decitan anak-anaknya merengek kehilangan rumahnya
Kupu-kupu dan lebah bahkan kehilangan melodi kepakan sayapnya
Kupu-kupu dan lebah bahkan kehilangan melodi kepakan sayapnya
Bunga-bunga enggan mekar berbagi nektar dan sarinya
Musim merunduk pilu
Musim merunduk pilu
Membeku bagai menanti pertanggung jawaban
Kemanakah hilangnya gemericik sungai yang jernih ?
Kemanakah hilangnya kedamaian alam ini?
Aku kehilangan melodi indah alamku
Aku kehilangan nurani lembut penghuni alam ini
Keserakahan bahkan membumbung tinggi
Menghalangi dinding-dinding nurani berbelas kasihan
Sanubari tiada daya
Tertutup rapat-rapat , tanpa celah kesadaran
Aku merindukan melodi alamku
Aku, kita dan mereka
Kita semua ada di dalamnya
Mengikuti alurnya, tapi mengapa tidak mampu merubahnya
Jika tangan ini terlalu hina memperbaikimu........Aku akan meminta tangan ini berhenti menyakitimu
Jika hati ini masih belum bisa membuka jendela nuraninya
Aku akan meminta angin dan hujan mengabarkan tangisan alamku
Padanya...pada kami... pada mereka.....
Tangisan yang pilu.... tiada tara
Karena damai yang hilang
Aku selalu mendengar, tangisan alamku, rintihan duniaku
Zenitha Meida Sari
