MY LOTUS

MY LOTUS

Selasa, 23 Agustus 2011

Tangisan Alamku, Rintihan Duniaku



Matahari yang kita pandangi setiap pagi
Silau  keemasan  pemandangan  ketika  mulai  hadir  di  ufuk timur
Embun-embun yang mengisi kesejukan pagi
Membalut damai dedaunan hijau

Kawanan  kupu-kupu dan lebah menari indah menyapa bunga
Beterbangan membawa nektar dan sarinya
Manis...... maniiis
  Alamku yang asri

Alam  yang selalu tersenyum ramah pada penghuninya
Tak pernah meminta secuil pun belas kasihan
Alam yang tak pernah mengeluh
Menyembunyikan rasa sakit karena kita menyakitinya


 Musim-musim itu seakan saksi
  Tangan ini yang selalu menyakitinya
  Tangan ini yang menggenggam kekayaannya
  Mengeruk, memusnahkan, lebur dalam keserakahan

 Kicauan burung samar-samar merintih menangis
Menangisi langitnya yang sudah kehilangan birunya
Menyesali sarangnya yang hilang entah kemana
Decitan anak-anaknya merengek kehilangan rumahnya


 Kupu-kupu dan lebah bahkan kehilangan melodi kepakan sayapnya
 Bunga-bunga  enggan mekar berbagi nektar dan sarinya
Musim merunduk pilu
 Membeku bagai menanti pertanggung jawaban

Kemanakah hilangnya gemericik sungai yang jernih ?
Kemanakah hilangnya kedamaian alam ini?
Aku kehilangan melodi indah alamku
Aku kehilangan nurani lembut penghuni alam ini

Keserakahan bahkan membumbung tinggi
Menghalangi dinding-dinding nurani berbelas kasihan
 Sanubari  tiada  daya
  Tertutup rapat-rapat , tanpa celah kesadaran

Aku merindukan melodi alamku
Aku, kita dan mereka
Kita semua ada di dalamnya
Mengikuti alurnya, tapi mengapa tidak mampu merubahnya

Jika tangan ini terlalu hina memperbaikimu........
Aku akan meminta tangan ini berhenti menyakitimu
Jika hati ini masih belum bisa membuka jendela nuraninya
 Aku akan meminta angin dan hujan mengabarkan tangisan alamku

Padanya...pada kami... pada mereka.....
Tangisan yang pilu.... tiada tara
Karena damai yang hilang
Aku selalu mendengar, tangisan alamku, rintihan duniaku

                                                 

                                                 
                                                 
Zenitha Meida Sari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar