MY LOTUS

MY LOTUS

Kamis, 30 Juni 2011

Tak Akan Ada Dua Kalinya

Tak Akan Ada Dua Kalinya


Jika dunia merasa malu akan dirinya
Maka akulah yang merasakan lebih malu dari dunia
Jika dunia merasa sepi
Maka akulah yang merasakan lebih sepi dari dunia

Dunia punya hati yang mencintainya
Dan juga punya ambisi mereka yang ingin menguasainya
Aku pun begitu
Dalam kehidupan sederhanaku

Aku terkadang iri pada mereka yang tertawa lepas
Karena aku tidak mampu merasakannya
Meskipun ku mampu, ku kehilangan hakikat tawa itu
Karena aku merasa aku terlalu asing, bahkan untuk diriku sendiri

Aku pun terkadang tak kuasa membendung butiran hangat dari mataku
Saat aku kembali pada roda waktuku
Saat aku menoleh kepada masa itu
Saat aku kembali...................................................................

Tapi inilah kehidupan......
Kehidupan yang mengalir,,,
Aku mengerti itu..
Untuk semuanya yang berubah dan tak akan dua kalinya

Tak akan ada dua kalinya tawa itu
Tak akan ada dua kalinya senyuman itu
Tak akan ada dua kalinya cekikikan bahagia itu
Tak akan ada dua kalinya kegilaan itu

Dalam setiap langkah baru
Selalu baru tak akan pernah sama

Sahabat dan Teman Yang Belum Ku Temui


Sahabat dan Teman Yang Belum Ku Temui

Sahabat dan teman yang belum aku temui
Sejauh pijakan kaki
Dalam setiap jengkal langkah
Mencari dan mencari

Sahabat dan teman yang belum aku temui
Kehadirannya pasti ada
Mengusik kesendirian dan kesepian
Merasakan dan merasakan

Sahabat dan teman yang belum aku temui
Aku merasa hanya sendiri
Aku merasa tidak mengenal siapa-siapa
Asing dan terasing

Sahabat dan teman yang belum aku temui
Aku bukanlah orang yang pandai bergaul
Bukan juga yang selalu memberi keindahan dalam pergaulan
Tapi aku berusaha mengenalinya, merasakannya, dan menuliskannya

Sahabat dan teman yang belum aku temui
Ku lukiskan engkau dalam imajinasiku
Imajinasi yang hadir dalam sebuah angan jauhku
Melalui kata dan hati

Ku berharap menemukanmu
Merajut asa, tawa, canda, sedih, dan tangis
Menjadi sulaman indah
Di dalam Langit Persahabatan

Awan putih kesucian hati sanubari
Tiada terusik ego diri


Jumat, 24 Juni 2011

Coba-coba dengan Photoshop.... ^__^






Hasil coba-cobaku mengisi waktu liburan....
Semoga, aku bisa mengasahnya lagiii....

Karena aku mencoba menyukai komputer, seperti aku menyukai kata
Mozaik Puisiku

                        Puisi merupakan sederetan kata yang bergabung menjadi kalimat indah penuh makna. Puisi mampu memberikan beragam warna bagi yang membacanya, kepuasan batin bagi yang membuatnya. Puisi itu hati. Hati yang berkata menjelma sebagai sebuah karya, bukan karya, tapi bahasa. Karya hanya bisa menyampaikan seni dan hasil akhir saja, beda halnya dengan bahasa, bahasa mampu menyatukan perbedaan, memicu timbulnya interaksi, tumbuhnya persatuan dan kesatuan. Puisi itu abstrak, tapi keabstrakannya itu menyelinap menyentuh ruang terindah dalam hati, eskpresi yang nyata. Aku juga tidak tahu mengapa aku suka pada satu hal ini, sejak kapan aku mulai menyukainya pun aku lupa. Yang aku ingat, dulu aku sangat tidak suka dengan puisi, apalagi ketika ada tugas membuat puisi, pasti aku menggerutu bahkan sampai bertekad tidak mengerjakannya, namun demi nilai, aku mengerjakannya, tapi jika disuruh dengan tema bebas, tidak diragukan lagi, aku selalu membuat puisi tentang Ibu atau tentang Guru, itupun hanya 4 bait maksimal, 4 bait yang membuat otakku nyaris keriting. 

                        Puisi pertama yang aku buat dengan luapan ekspresi sekaligus emosi, aku buat untuk Santi, aku benar-benar merasakannya, keindahan saat tangan ini menari indah di atas lembaran kertas, menggoreskan pena, merasakan semua perasaan tumpah ruah. Tapi saat itu pun, belum mampu membuatku tertarik dengan hal yang satu ini. Hingga pada suatu saat di kelas 8,  Pak Deni meminta aku dan Nourma mengikuti lomba Cipta Karya Puisi, kami harus membuat tiga puisi dengan tema yang berbeda dan parahnya mau tidak mau ya harus mau, waktunya pun hanya satu malam ini, karena ternyata perlombaannya diadakan besok pagi juga. Selama di rumah aku berpikir keras, hal ini bertolak belakang dengan diriku, biasanya aku diikutsertakan dalam even lomba olimpiade yang berhubungan dengan hitungan, yaitu Matematika, meski memang belum pernah menuai kemenangan, paling menang juga di tingkat kecamatan, pernah sih sekali di Pasiad, itu juga menurutku faktor keberuntungan, karena setelah itu pasti gagal.

                        Bayangkan tiga tema dalam satu malam, aku bisa muntah dibuatnya, tiga tema itu adalah lingkungan, pendidikan, dan politik. Ya Alloh, sampai siang berganti senja pun aku belum mendapatkan setitik pun inspirasi. Malam itu, aku benar-benar dibuat pusing dengan lomba yang satu ini, lembaran demi lembaran terbuang begitu saja, hanya coretan belaka. Sampai pukul 8 malam, aku belum juga berhasil menciptakan satu bait pun. Rasanya ingin marah dan menangis. Aku pun langsung curhat kepada Papahku, meminta saran dari beliau.  “ Memangnya temanya apa aja teh?”  tanya papah kepadaku. “ Ada tigaa, lingkungan, pendidikan, satu lagi politik.” Jawabku kesal. “ Yaudah bikin.” Ujar papahku enteng. “ Tapi ga ada ideee, paaah.” Jawabku bertambah kesal. “ Kenapa ga mulai dari yang tema politik aja, tuuh liat di televisi banyak banget ulah pemerintah yang membuat rakyat menangis, tersiksa, sedangkan mereka apa? Menjual janji palsu demi kekuasaan dan materi!” tutur papahku dengan menggebu-gebu. Aku hanya terdiam dan kembali ke kamar, tanpa sepatah kata pun, tatapanku kosong, bingung dengan perkataan papah, sekaligus terpana. 

                        Tiba-tiba kalimat papahku terngiang-ngiang di telingaku, ditambah lagi emosiku saat itu telah mencapai titik kulminasi, karena belum mampu menciptakan satu pun bait dalam kertasku. Seketika itu juga, kemarahanku berubah, aku marah bukan karena aku belum juga mampu menciptakan satu bait pun, tapi aku marah dengan kelakuan pemerintah, aku muak dengan politik! Aku benci politik! Politik saat ini hanyalah wadah penyiksaan bagi rakyat, politik saat ini bukanlah demokrasi yang diagung-agungkan, politik saat ini adalah abu-abu..... emosiku meletup-letup di dalam dadaku, keringatku bercucuran, entah mengapa saat itu juga, aku langsung menyambar pulpen yang ada di sampingku tidak lupa kertasnya juga, seperti ada yang bergerak di hatiku, gerakan itu membuat tanganku dengan cepatnya menggoreskan pena di atas kertas putih, tidak peduli seburuk apapun wujud tulisanku. Akhirnya tidak kusadari 6 bait pun rampung, aku melompat bahagiaaaa, berteriak, suaraku seolah memecah kesunyian malam di kamarku. Aku berhasiiiiil............... !!!! 

                        Aku merasa aneh, aku merasa lebih lega, seperti sudah mengeluarkan ekspresiku yang selama ini tidak pernah aku sadari. Aku tidak mempedulikan keanehan itu, aku pun melanjutkan untuk dua tema lagi, kali ini aku memilih membuat tentang lingkungan terlebih dahulu, aku mencoba membayangkan alam saat ini, alam yang telah tercemar, tangisan alam jika saja bisa menangis, rasa berontak bumi ini kepada para manusia yang hanya menumpang tapi merusak, aku pun langsung mendapat inspirasi, bedanya saat aku menulis bait demi bait dengan tema lingkungan, perasaan yang hadir di hatiku adalah sedih, kecewa, tidak menyangka, bahwa manusia termasuk aku, sejahat itu kepada bumi. 

                        Dua puisi pun selesai aku merasakan rasa damai dan tenang mendesir mengalir bersama aliran darahku, benar-benar lepas.. Seperti telah melepas semua beban, mukaku langsung berseri, bahagia yang sulit aku tebak apa sebabnya. Bahagia kali ini, membuatku ingin membuat puisi lagi, biasanya jika aku membuat puisi paling maksimal 4 bait kan, itu juga sesudah itu pasti males banget bikin lagi, tapi sekarang beda, ada yang berubah pada diriku, aku ingin menulis lagiiii, aku ingin merangkai kata lagi, tapi apa daya mataku sudah memberontak, akhirnya aku pun tertidur pulas.

                        Aku terbangun dari tidurku tepat pukul 3 dini hari, aku terbangun dan baru ingat kalau masih ada satu tema lagi, yaitu tentang pendidikan. Karena kantuk masih menggelayuti kelopak mataku, jadi jangankan mendapat ide, berusaha membuka mata pun susah. Aku pun mencuci mukaku, sekalian berwudhu, sholat tahajud dan berdo’a. Memang keajaiban do’a, perlahan aku mendapat ide itu, suasana sekolah tergambar dibenakku, semangat putih biru saat berangkat, kebahagiaan ketika guru tidak hadir di kelas, dan perjuangan demi mimpi di langit yang menunggu kita untuk menjemputnya. 

                        Akhirnya selesai juga, bismillahirohmanirrohim. Semoga lancar. Amiiiiiiiiin. Pagi harinya aku dan Nourma hanya mengikuti pelajaran pertama dan kedua, selebihnya kami berangkat untuk mengikuti lomba cipta karya puisi. Sesampainya di sekolah tuan rumah, kami berbaris sebentar kemudian masuk ke ruangan yang sama, ya, aku dan Nourma satu ruangan, bersebelahan malah. Kami dibagikan lembar kosong, kami pun memulai menulis puisi kami, untung saja aku sudah menghafalkannya, ternyata dari ketiga tema itu kita hanya menuliskan satu diantara ketiganya , aku memilih tema politik, karena aku menyadari luapan ekspresiku sangat nyata saat aku menulis puisi yang satu ini. Aku pun berhasil menyelesaikannya, setelah itu puisi ini dikumpulkan kepada pengawas, aku dan Nourma pun keluar ruangan, langsung menemui Pak Deni. Kami pun pulang, kembali ke sekolah. Kami hanya perlu menunggu hasilnya. Minggu depan hasil itu akan diumumkan. 

                        Tidak pernah aku sangka, kalau aku bisa memenangkan lomba ini, lomba Cipta Karya Puisi, padahal ini adalah pengalaman pertamaku, beda halnya dengan olimpiade matematika atau lomba bidang studi lainnya yang sudah aku ikuti berulang kali, tapi tidak membuahkan kemenangan yang berarti, sekarang, aku dinyatakan sebagai Juara II Lomba Cipta Karya Puisi se-Kabupaten. Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Alloh dan juga masih tidak percaya. Aku mulai bertanya dalam hati, apakah ini suatu keberuntungan atau memang bidangku ada di sini?

                        Semenjak itu, aku yakin ada sesuatu dalam diriku, mozaik puisi yang seketika  itu menyelinap ke dalam minatku. Setiap aku mengalami periwtiwa yang menarik, aku selalu melukiskannya melalui bait-bait puisi. Begitu pula kepada sahabat-sahabatku, aku selalu menyelipkan lembaran puisiku untuk mereka, sebagai kenang-kenangan. Teman-temanku menerimanya dengan senang hati. Aku merasakan kebahagiaan yang sulit untuk kupahami. Aku merasa memberikans senyuman bagi mereka melalui puisi. Aku menyukai bidang ini. Mozaik puisiku selalu aku susun bait demi bait, peristiwa demi peristiwa, suatu saat nanti aku ingin seperti Chairil Anwar. Meskipun cita-citaku adalah menjadi dokter, aku sangat ingin sambilanku membukukan  mozaik puisiku serta ingin juga menjadi penulis. Aku ingin memberikan kebahagiaan melalui kata-kata, aku ingin mengajak semua orang menikmati bahasa yang indah, menghargai bahasa Indonesia, dan mencintais seni.

                        Dan seperti air sungai yang mengalir, bait demi bait puisi aku buat hanya sekedar untuk menggambarkan suasana hatiku. Aku bukan maestro yang dengan lihainya merangkai makna, menciptakan maha karya, aku hanya ingin membuat diriku damai melalui puisi, aku ingin membuat semua orang tersenyum dengan bait-bait sederhanaku, terlebih lagi aku bukan tipe orang yang berani langsung mengekspresikan semuanya dengan lisan, aku lebih suka media tulisan, lebih bijak menurutku.

Kopi Persahabatan di Hari Ulang Tahunku

Kopi Persahabatan di Hari Ulang Tahunku

              Akhir april, sudah terlewati sudah, detik-detik menuju mei semakin cepat terlewati, saatku menuju angka baru dalam hidupku, angka 16. Angka yang bertambah besar, berarti aku juga harus bertambah dewasa dalam menghadapi semuanya, dan harus mandiri, entah mampukah aku melakukan perubahan itu? Hari ini hari bulan april akan mengakhiri petualangnya, tanggal 30 april. Hari ini aku pergi ke gramedia untuk membeli novel, ya begitulah kebiasaanku, menambah koleksi novel di akhir pekan. Aku pun meminta kepada mamah dan papah untuk menuju gramed di Teras Kota saja, karena koleksi novelnya menurutku lengkap. 

              Kami pun segera bergegas ke sana, sesampainya di sana, aku sangat bingung untuk memilih novel mana yang aku mau, hampir semuanya aku baca sinopsisnya untuk memastikan cerita yang benar-benar menggungah dan menakjubkan. Sayangnya yang aku anggap menakjubkan itu banyak, sehingga bukan hal yang asing lagi, aku ingin membeli semuanya, memang beginilah aku, kalau sudah melihat buku yang tertata rapih di gramed pasti aku ingin semuanyaaaa. Tujuan utamaku ke sini, memang ingin membeli novel yang berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan, menurut synopsis dan referensi yang ku baca tentang novel ini, Surat Kecil Untuk Tuhan ini mengisahkan kisah inspiratif dari seorang remaja berumur 14 tahun yang menderita kanker jaringan lunak, jenis kanker yang baru kali ini melanda di Indonesia, bahkan di dunia pun jarang sekali, karena memang jenis penyakit ini bisa dibilang langka. Namun sedari tadi aku tidak  melihat novel itu, akhirnya aku mengecek di komputer dan meminta tolong untuk dicarikan, akhirnya 1 novel ada di genggamanku. Aku masih ingin membeli lagi, walau hanya satu novel lagi. 

              Aku pun kembali membaca synopsis dari novel-novel yang berjajar rapi seolah siap atau bahkan bersedia aku bawa pulang untuk dijadikan teman. Kali ini aku meminta pendapat papahku, papahku pun ikut mencari dan mencari, sampai suatu ketika kedua bola mata papahku terfokus pada satu novel yang ketebalannya tidak diragukan lagi mampu membuat kepala benjol kalau kena timpuk novel ini. Judulnya  The Superleader.

Sinopsisnya sih menceritakan tentang kisah fiksi petualangan, sepertinya seru, aku pun langsung menyetujui usul papahku, hitung-hitung kado dari papah, makasih yaa papah jadi ga enak padahal kan aku udah gede, masa masih dikasih kado, sebenernya kan kado terbesar yang aku dapatkan bukan hanya saat aku ulang tahun, tapi setiap hari, kasih sayang papah dan mamah, kado terbesarku seumur hidupku.

              Karena hari sudah mulai malam, kami pun selesai hunting novel, kami menuju salah satu rumah makan, kami menikmati setiap suap hidangan yang ada, syukur Alhamdulillah, semoga kami sekeluarga menjadi keluarga yang selalu bahagia dunia akhirat. Amiiiiiiiin ………….. 

              Sesampainya di rumah , kami semua merasa lelah, sehingga hampir jam 9 malam, kami sudah tertidur lelap. Namun aku bangun jam 10, untuk belajar, sembari smsan bersama sahabat lamaku, Asnawati, jujur, sampai saat ini Cuma dia yang masih setia sms aku, kalau yang lainnya cenderung sibuk, aku maklumi sih, tapi terkadang aku juga sedih, karena dulu, sebelum kepindahanku menjadi kenyataan, mereka berjanji di hadapanku, untuk selalu bertukar info meskipun jarak kami saling berjauhan, namun kini, semua itu hanya janji belaka, menyedihkan….. tapi, saat ini, malam ini, saat aku menanti detik-detik akhir april dan awal mei, dimana aku akan mendapat angka baru yaitu 16.

Dan harus aku akui, malam penantian momen spesialku ini, aku merindukan mereka semua, aku merindukan masa-masa mereka ada untukku, menerimaku, dan menemaniku setiap waktu, bahkan saat aku tidak ingin ditemani, mereka selalu ada untukku. 

              Asnawati masih asna yang dulu aku kenal, masih asna yang selalu ada buat aku, dan selalu menemani aku kapanpun aku mau. Malam ini pun ia ada bersamaku, bersama-sama menanti hari bersejarah setiap tahunnya untukku, 1 mei. Kami mengisi waktu kami dengan saling bertukar cerita alias curhat sampai tidak terasa, jarum jam sudah memasuki digit 23.00, namun jujur, aku masih belum ngantuk, aku masih ingin merasakan detik 16 pertamaku, sembari menamatkan materi geografi yang akan dievaluasi pada hari seninnya. Seolah mataku sudah terhipnotis oleh jam dinding, entah mengapa, arah pandanganku tidak pernah terlepas dari gerakan demi gerakan putaran jarum jam, seakan setiap putarannya memberi makna tersendiri khususnya bagiku. Jam 11 malam pun terlewati, kini puncaknya, hanya sekitar 20 menitan lagi untuk menyambut awal mei, angka 16ku. Tik-tok-tik-tok-tik-tok………….. jarum jam bergulir dan bergulir lagi, 5 meniiiit lagiiiiiii. Asna my bff ( best friend forever ) mengingatkanku, dan akhirnyaaaa alarm hp mamah, papah, zulfa dan aku berbunyi dengan nada yang berbeda-beda, 00.01, menit pertama angka 16 ada di genggamanku. Orang yang pertama mengucapkan happy birthday adalah sahabatku asnawati, disusul oleh cindy, dan neng ranti, mereka tiga orang pertama, makasih banyaak yaaa sahabaat. Kalian membuatku terharu, sangat bahagia. 

              Asna pun memberitahu kalau dia mengucapkan happy birthday lewat fb, sedangkan aku masih trauma untuk membuka fb, semenjak kejadian link setan yang dikirimkan seseorang melalui chat. Namun, berhubung umurku sudah bertambah satu tahun, jadi aku harus lebih berani lagi. Ayoo zeeen, peristiwa itu kan Sembilan hari yang lalu, jangan terlarut lama dalam trauma konyol ituuu, don’t give up zeen, aku menyemangati diriku sendiri, ditambah lagi, asna heboh menyemangatiku untuk tidak takut lagi. Akhirnya aku pun membuka fb lewat hp, awalnya keringetan karena takut, tapi  “aku pasti bisaaaa! Yeay akhirnya bisaa jugaa, aku udah ga takut lagi, horeee!” sorakku dalam hati, aku pun langsung mengecek profilku, benar saja ada wall dari Asna dan teman-teman yang lainnya, selain itu aku juga membuat status spesial 16ku. Alhamdulillah akhirnya aku udah ga takut lagi buka fb.

              Aku masih terjaga hingga pukul 1 malam, aku belum tidur, karena ada yang janggal dalam 16ku, aku tidak mendapat ucapan dari sahabat dari kecilku, Kribo Nourma, biasanya dia yang pertama ngucapin, dan ga pernah sampai jadi yang kedua, namun saat ini, bahkan setelah lebih dari 5 orang memberi ucapan kepadaku, dia pun tidak kunjung mengucapkannya, aku merasa sedih menyadari hal itu, aku takut, kami sudah bukan seperti dulu, antara aku, dia, dan persahabatan kita selama 10 tahun. Ternyata…. Dia memberi ucapan pukul 9 lewat di pagi hari, urutan lebih dari belasan orang, kamu berubah nourmaa,, aku harap persahabatan kita tidak ikut berubah. Kalau papah dan mamahku, jangan ditanya, sebelum tanggal satu mei, ya kira-kira satu minggu sebelum tanggal 1 mei, mereka sudah menyindir dan mengucapkan terlebih dahulu, orang tuaku memang top deeh. Makasih ya mapa (mama papah) I love you so much. Aku berusaha untuk menjadi zenitha yang lebih baik lagi buat semuanya, dan membuat mamah papah bangga sama aku. 

              Ada juga yang mengucapkan bukan melalui sms atau fb, tapi langsung telepon ke nomorku, pagi-pagi, daaan ternyataa. Orang itu, teman dekatku sekelas lagi, ihaaaaat. Ihat meneleponku dengan suara kami yang masih sama-sama mengantuk, ia mengucapkan dan membisikkan harapannya untukku melalui telepon genggam ini. Makasih ya ihaaaat. 

              Selain menanti ucapan demi ucapan, dan yang lebih utama adalah menanti perubahan diriku sendiri, maksudnya lebih daripada menanti, tapi mengusahakannya sekuat tenaga, aku juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan harian geografi, aku berharap aku mampu mendapatkan nilai atau hasil yang memuaskan. Di lain sisi, aku juga disibukkan dengan kegiatan membuat properti, ya meski yang kubuat tidak seberapa banyaknya, namun, jujur saja, aku tidak telaten jika mengerjakan kesenian seperti ini, tapi aku akan berusaha, bukan buat aku sendiri, melainkan untuk kelompokku, hari selasa minggu ini kan mau tampil, kelompokku menampilkan drama tentang rakyat betawi asli, yakni Si pitung. Kelompok drama kali ini, aku sekelompok dengan Abang Farry, Gita, Agustina, Yeni, Ariella, dan 14 orang lagi, anak laki-laki. Memang kebetulan peran-peran dalam drama kelompok A ini, kebanyakan dimainkan oleh anak laki-laki, dari mulai peran utama sampai peran tambahan. Yang penting adalah kekompakkan dan penghayatan. Berhubung waktu untuk tampil hanya menunggu satu hari lagi, sedangkan yang mengisi peran utamanya sedang berada di luar kota, sehingga kelompok A kurang latihan. Tapi aku percaya, kita semua pasti bisa, dengan kerja keras dan saling percaya, bahwa masing-masing dapat mempertanggung jawabkan tugasnya. Begitu pula denganku, yang kebagian tugas menjadi penulis naskah, sutradara, dan saat ini aku sedang membantu sebisaku untuk membuat properti rerumputan, hal ini pun juga aku dibantu oleh adik tercintaku, makasih yaa zulfaaa. 

              Setelah semua tugas selesai dan materi ulangan sudah dipelajari, aku pun memilih untuk beristirahat sejenak. Dalam waktu yang senggang ini, kebiasaan anehku adalah menghayal, kali ini khayalanku menuju kepada ‘ apa yang akan terjadi pada hari esok?’ entah mengapa aku mendadak ingat, peristiwa-peristiwa konyol yang dialami teman-temanku yang ulang tahun, seperti Ibnu yang dikerjain habis-habisan sampai para guru turun tangan, dan pada akhirnya kena ceplokan telur ditambah bilasan krim kue ulang tahun. Belum lagi, saat Neng dan Ihat ulang tahun, padahal ulang tahunnya sudah lewat, karena tepat pada hari sabtu dan minggu, namun pada hari seninnya tetap mendapat ceplokan telur dan akhirnya insiden kue pun terjadi. Aku kira berhenti sampai di situ, ternyata Mare juga menjadi sasaran empuk bagi cairan kental dari cangkang telur itu, untung saja waktu itu dia memakai kerudung, setidaknya, rambutnya tidak mendapat bau parah akibat telur itu. Hal yang berbeda di alami abang, abang dikerjain sama bu Susi, guru Sosiologi, saat itu beliau menanyakan tentang teori labeling kepada abang, malangnya, abang tidak bisa menjawab, sehingga abang kena marah Bu Susi, sebenarnya sedari awal, aku menyangka bahwa abang sedang mendapat doorprize, soalnya, sepengetahuanku, Bu Susi, tidak mungkin bisa marah-marah tanpa sebab dan sebegitu parahnya. Saat ini, perlahan, aku membayangkan ‘apa yang akan menimpaku pada hari senin nanti?’ pertanyaan yang hampir tidak penting, namun cukup menguras ruang pikirku. Husnuzan saja..........

              Jika dipikir-pikir lucu juga yaa, kalau aku mendapat sesuatu konyol di hari senin, mana aku tidak bisa berlari lagi, ya habislah. Kalau tidak bisa berlari maka, ada dua kemungkinan yang nyata, pertama, tidak dapat melarikan diri, kedua kalau kena, tidak dapat membalasnya. Jalan satu-satunya hanya pasrah. Mengingat hal tersebut, aku jadi geli sendiri. 

              Hari minggu kali ini pun semakin cepat berlalunya, entah apa karena banyak tugas dan ulangan sehingga waktu berlalu dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, atau karena khayalanku sendiri. Malam pun tiba.... Dan nampaknya, senin, sudah tidak sabar untuk aku masuki, daaaan.... apa yang akan diberikan senin untukku yaaa? Pertanyaan yang membawaky ke alam tidur, untuk menyambut hari esok.

              Keesokan harinya pun tiba. Nada alarm berdering seolah tanpa ampun, memaksaku untuk bangun dari nikmatnya tidur yang serasa baru saja kurasakan. Beginilah hari senin, hari setelah weekend, sehingga rasa malas, dan kantuk hebat terbawa dalam suasana pagi hari ini. Mungkin inilah salah satu alasan, mengapa hari senin masuk ke dalam daftar, hari-hari yang hampir tidak diminati. 

              Langit yang kala itu masih menyiapkan awan-awan putih, menunggu sang surya meneranginya. Warnanya sangat indah untuk suasana ngantuk, begitulah langit, warna yang ia tunjukkan, selalu saja sama dengan apa yang aku rasakan. We are the best friend. Seiring dengan putaran mesin waktu yang tidak terasa telah membawaku pada pukul setengah 5, aku pun bangun, ku putuskan untuk sholat, lalu mandi. Aku mohon setelah air mengenai mukaku beserta kedua mataku yang menjadi tempat nikmat bagi kantuk bergelayut, dapat menghilangkan rasa kemalas-malasan ini. 

              Serentetan prosesi pagi hari telah aku jalani, dan tibalah waktu berangkat. Apa lagi kalau bukan diantar papah dan harus ke sekolah adikku dulu, antar bergilir, tapi berangkat bersamaan. Selama perjalanan, aku membuka buku geografi untuk memastikan materi yang ku pelajari dan ku hafalkan masih tersimpan rapi di memori otakku. Atmosfer adalah gas yang berlapis-lapis yang menyelimuti bumi. Perlahan kalimat demi kalimat berbau atmosfer terlontar dari mulutku, membuatku seperti sedang komat kamit. Alhamdulillah geo okee. Ku tutup buku geoku untuk menyempatkan memandang langit. Di sinilah part yang aku suka, aku diantar papahku setelah adikku, sehingga pemandangan langitnya lebih indah dan lebih lama aku melihatnya. Mataku tidak bisa aku alihkan dari keindahannya, birunya, kabutnya, awannya, semburat cahaya matahari yang masih nampak manja, garis-garis halus berpolanya, gradasi warnanya, semuaaanyaaaa! Aku tidak akan membiarkan satu sesi pun terlewatkan dari langit pagi ini. Seindah langit, hatiku juga merasa kesejukan itu, senyum selalu menutupi sesi memandang langit ini. Makasih ya langit. 

              Sekolahku pun semakin dekat. Semakin dekat juga sesuatu yang mengganjal sejak minggu pagi itu menjadi kenyataan. Kenyataan yang pertama dalam hidup. Sampailah aku di sekolah tercintaku, suasananya masih sepi, belum banyak orang yang datang, aku juga tidak berburu-buru dalam menuju kelas, karena aku belum puas memandang langit, aku berjalan dengan mata ku arahkan kepada yang biru satu ini, hari ini, dan seterusnya, pagi-pagi yang kulalui, aku akan memandangmu. aku penggemar beratmu. Aku tertawa sendiri merasakan kekonyolan diri sendiri. 

              Sesampainya di kelas, ihat sudah datang. Yang berbeda hari ini, aku tidak melihat Cindy, padahal ia yang sering datang pertama. Ihat mengucapkan selamat ulang tahun pertama pada pagi hari ini, di tanggal dan hari yang baru, tentunyaa. Semakin bertambah siang, perlahan satu persatu teman-temanku memasuki pintu X-1. Mare, Abang, Neng, dan semuaanyaa. Rupanya Nindy ingat akan hari ulang tahunku, ia langsung mengucapkannya, diikuti dengan astri dan terdengar dari barisan belakang, lagu happy birthday dilantunkan. Bel masuk membuat kehebohan ini harus tertunda. Saatnya menerima masukan dari Pak Toha, berhubung awal bulan, upacara pun tidak dilakukan.

              Waktu terasa berjalan dengan kecepatan yang luar biasa cepat, bu Erthy datang, bertanda pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Cindy tidak masuk hari ini, tapi kami BF belum tahu alasan pastinya. Aku langsung pindah tempat duduk ke tempatnya Cindy, bersama neng. Pelajaran pertama ini, kami membahas latihan soal di buku paket. Bel memanggil Bu Erthy sehingga pelajaran bahasa Indonesia pun usai. Mrs Lilis dengan Eap, telah menunggu kami. Inilah yang berbeda dari pelajaran yang lain, eap, selalu memberi topik-topik seru membuat kami semua menikmati pelajaran ini, belum lagi, dibimbing oleh Mrs. Lilis, cara penyampaiannya dikemas unik, simple, menarik, otomatis kami menjalaninya dengan lebih semangat dari pelajaran yang lainnya. Kali ini, topik pembahasan Mrs. Lilis adalah AFS. Program belajar di luar negeri dalam kurun waktu tertentu, tentu saja melalui tes, berbeda dengan program-program yang lainnya yang dipungut biaya cukup tinggi, AFS bisa dibilang gratis, hanya saja tesnya yang sulit. Mrs. Lilis menanyakan siapa saja dari kelas X-1 yang berminat untuk mengikuti AFS ini, menurut beliau, program ini sangat baik bagi pengalaman kita semua, hampir sepuluh orang  yang berminat.  Tapi aku tidak berminat. Aku masih belum mandiri untuk berada jauh dari orang tua, di lain sisi meskipun aku berusaha mandiri, bahkan dari pihak mamah dan papah, keduanya pasti kelewat mengkhawatirkanku. Mrs lilis menanyakan kepada teman-teman yang berminat dan baru saja melewati tes tertulis pada hari minggu kemarin. Penuturan teman-temanku, menunjukkan betapa sulit dan uniknya soal-soal yang mereka hadapi. Mereka menyebutkan soal-soal yang masih ada di ingatan mereka, Mrs Lilis tersenyum, bahkan tertawa mendengarnya. Menurut beliau itu adalah soal yang sangat amat gila sekali. Kami pun serentak tertawa. 

              Beliau pun memberikan tips dan trik kepada teman-temanku, pertama beliau mengatakan jika menjawab soal esai, maka jawabannya harus mencakup empat faktor. Empat faktor itu adalah self relionce, self confidence, leadership, open-mindedness. Empat faktor yang membuatku semakin yakin bahwa aku belum mampu menjadi remaja yang mandiri, meskipun saat ini aku baru saja menapaki hari kedua dalam angka 16ku. Nindy menuturkan ada dua soal esai, mereka disuruh untuk memilih salah satu dan menjawabnya. Nindy memilih pertanyaan tiga prinsip dalam hidupnya. Menurut Mrs. Lilis, dua dari tiga jawaban Nindy memenuhi target. Yuhuuu nindy,,,, terdengar suara anak-anak menyemangati Nindy, begitulah kelasku terkenal kompak dan hebohnya. Perlahan tapi pasti mrs lilis menuturkan ada beberapa tahap dalam penyeleksian ini, selain tes tulis ada tes wawancara dan team work. Dalam tes wawancara, ternyata kita akan dihadapkan pada pertanyaan yang menjurus kepada empat faktor tadi. Setelah itu, team work, pada tes ini, kita akan dinilai kepemimpinan dan cara kita menghadapi suatu hal. Mrs Lilis menceritakan pengalaman dari AFS sebelumnya, para peserta berada di suatu ruangan dan ditinggalkan pengawas selama waktu yang cukup membuat hati kita geram, tapi disinilah penilaiannya, karena pengawas akan mengamati mungkin menggunakan alat pemantau, atau mengamati dari kejauhan, cara kita berinteraksi dengan orang-orang yang belum kita kenal sebelumnya, terlebih lagi, diberi tugas untuk membuat suatu prakarya yang konyol. Ide dan kepemimpinan kita dinilai disini. Wah kalau aku mengikuti tes semacam ini, bisa aku pastikan aku adalah satu-satunya peserta yang hanya bisa berdiam diri, jujur sampai saat ini begitu sulit bagiku untuk memberikan ide kepada yang lain, apalagi kepada orang-orang yang belum aku kenal sebelumnya, lebih parahnya lagi harus melalui lisan. 

              Karena kami semua hanyut ke dalam topik kali ini, sehingga bel istirahat pun kami relakan untuk mendengarkan penuturan Mrs. Lilis. Kami semua puas dengan penuturan Mrs. Lilis. Akhirnya pelajaran seru ini pun selesai, kami menggunakan jam EAP kedua untuk beristirahat. Aku, Mareta, dan Abang pun memakan bekal. Kebiasaan saat istirahat, bekal rumahan menjadi santapan nikmat kami. Setelah itu, pelajaran sosiologi siap untuk kami pelajari. Bel pun memberi salam perpisahan kepada waktu istirahat dan memberi sambutan untuk pelajaran selanjutnya. Bu Susi pun masuk kelas, aku langsung ingat peristiwa abang, bu susi berhasil membuat abang yang superduber tomboy ini meneteskan air mata. Aku takut hal ini terjadi kepadaku, aku paling tidak bisa diomelin atau dimarahin oleh siapapun, dari SD, SMP, aku memang terkenal cengeng, aku tidak ingin hal ini terulang di SMA, aku tidak mau mendapat gelar itu lagi. Aku mohoon.....

              Kekhawatiranku terbukti juga, tiba-tiba bu susi menuturkan bahwa kita sebagai individu itu harus bergaul, jangan terlalu menjadi individu yang pendiam, sekalipun kita jenius, nilai kita bagus, tapi interaksi adalah hal pertama yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan sosial ini. Aku merasa itu adalah aku, entah aku yang kegeeran atau memang aku menyadarinya. Dua pernyataan yang membuatku bingung. Di tengah-tengah kebingungan itu, Bu Susi menanyakan pelajaran telah lalu tentang jenis-jenis penyimpangan sosial kepadaku, aku kaget, untung saja aku masih ingat, namun suaraku terlalu kecil, beliau menyuruhku untuk lebih keras lagi jika ingin menjawab. Aku tahu inilah hal yang tersulit dalam diriku sendirim aku tidak berhasil menguasai diriku, membuat diriku sendiri mempercayai kemampuanku, membuat aku berani untuk sekedar menjawab apa yang ku tahu, untuk sekedar memberi pendapat apa yang ada di pikiranku saat itu. Dan semua dari aspek itu aku tidak berhasil. Aku masih aku yang dulu, aku masih malu bahkan aku bingung mengapa aku malu, aku masih takut hanya untuk membuka mulut sedikit saja membiarkan kata demi kata terlontar, tapi sekali lagi aku belum mampu ya Alloh. Ya Alloh izinkan aku berani bicara..... izinkan aku berani mengemukakan apa yang aku ketahui, ide-ide yang ada di otakku, semuanya, semuanyaaaa, aku ingin berani bicara seperti yang lainnya, seperti yang lainnya, yang tidak merasa khawatir jika ditanya atau jika disuruh mengemukakan pendapat, yang tidak merasakan malu yang amat sangat saat harus maju ke depan kelas.

              Berhubung aku mampu menjawab pertanyaan dari bu susi, setidaknya aku tidak dimarahin. Pelajaran sosio pun usai, kali ini, ibu masofah tidak masuk, sehingga kami putuskan untuk mengulang geografi. Ciri khas dari Pak Kus ini, jika ulangan soalnya esai, tapi ini yang aku suka, karena menurutku esai itu memberi ruang kepada kita untuk menjawab selain dari teori yang ada, bisa juga mengembangkan kalimat itu dengan bahasa sendiri dan mengaitkannya dengan pendapat kita sendiri, tidak seperti pilihan ganda, yang hanya memilih a, b, c, d, atau e saja, memang bukan sekedar memilih, namun tetap saja memberi peluang besar bagi mereka yang tidak jujur.

              Mendekati jam setengah tiga, kami semua merasa kegundahan yang sama, meskipun materi sudah dikuasai, tetap saja, perasaan unik sebelum ulangan dimulai selalu hadir. Jam telah menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit, Pak Kusnadi belum juga muncul, kami beranggapan beliau tidak masuk, tapi untuk jaga-jaga, kami tetap komat-kamit dengan teori, materi dan lain sebagainya. Rupanya anggapan kami mendekati real, karena jam sudah menunjukkan pukul tiga tepat, beliau belum juga muncul. Tidak mungkin kami mengerjakan ulangan hanya dalam kurun waktu 15 menit, di saat kebingungan kami, beliau pun datang serentak sebagian besar dari kami berkata “ yaaaah paaaak, udah jam segini, masa kita ulangan paaak, ga mungkin cukup.” Beliau pun tersenyum khas, saat sebagian dari kami mengatakan hal itu. Nampaknya beliau menyadari hal itu, beliau pun mengundur waktu ulangan ke pertemuan berikutnya. Untuk hari ini, hanya meneruskan latihan di buku paket saja, sontak semua berteriak “ horeee,,,,” namun hore kali ini, diiringi dengan “ yaaaah, padahal kan udah belajar bapaaaak.” Ada ada saja anak zaman sekarang, selalu bisa menyikapi dengan caranya. Bel pulang pun mengingatkan kami pada rumah, sehingga wajah kami berubah menjadi cerah, ceria, dan sumringah. Beginilah pelajar, bahagia jika waktu pulang dan istirahat tiba. Di sini juga rasa cemasku bertambah parah, aku tidak bisa membayangkan sesuatu konyol akan menimpaku. 

              Mareta pun mengajakku menemaninya untuk memfoto copy catatan mtkku, aku berjalan di samping mareta dengan tampang bisa dibilang celingukan, sedikit-dikit menoleh ke belakang, samping kanan dan kiri, tak lupa ke depan. Mareta tertawa melihat tingkahku. Mareta tahu aku sedang khawatir dengan sesuatu hal. Ia memberi kata kunci, kalau ternyata memang aku akan mendapat sesuatu sore ini. Kata Mareta, kali ini bukan telur, tapi kopi hitam. Astagfirulloh.... spontan aku mengucapkan kalimat istigfar itu. Mareta lagi- lagi tertawa. Sesampainya di seberang, mesin foto copynya lagi mati, katanya sih gara-gara mati lampu. “ yaaah zeen, terus gimana doong?” aku hanya bisa menjawab “waduh aku juga ga tahu mareee, kalau mati lampu berarti tempat foto copy di sekitar sini juga sama dengan yang kami datangi saat ini. Mareta pun bercanda, ia tidak mau mengantarkanku untuk sampai di seberang, aduuh kawaan, aku paling tidak bisa menyeberang, terlebih lagi dalam suasana padat seperti ini, Mareta pun akhirnya mengantarkanku sampai di depan gerbang sekolah. Aku berjalan masuk setelah melambaikan tangan kepada Mareta, aku berjalan dalam rasa kekhatiran. 

              Sesampainya di kelas, ada yunita, ulfa, ibnu, abang, rinda, tapi ihat sama neng tidak ada. Wah jangan-jangan.............. parnoku mulai menyeruak ke luar ubun-ubun. Rasanya aku mau pulang sekarang juga. Benar saja setelah abang turun menemui kiki, yang tersisa hanya aku, un, ibnu, ulfa, rinda, un mengucapkan happy birthday dengan caranya yang unik, dan memperingatkanku kalau akan ada sesuatu yang akan menimpaku sore ini. Namun hal itu belum terbukti, yang ada ihat dan neng datang dengan membawa sesuatu ditangan mereka. Waw, mereka membawa kue,  sungguh tidak aku duga sebelumnya, sahabat-sahabatku sampai sempat memberikan ini buatku. Aku sangat terharu, sejujurnya ini adalah kue terunik yang aku dapatkan, karena dari brownies yang dihias sendiri dengan hasil kreasi neng, ada tulisan  zen di atasnya. Aku pun diminta untuk meniup lilin demi lilin dan make a wish.  “ Aku harap aku akan terus seperti ini, berada di sisi sahabat-sahabatku yang mau menerimaku apa adanya, mau menerimaku dan memberikan kasih sayang mereka buat aku, membagi canda tawa sampai air mata bersama. Aku ingin aku selalu melihat senyuman sahabat-sahabatku, aku juga ingin menjadi zenitha yang membuat siapapun bahagia, terutama orang-orang yang aku cintai. 

Terima kasih Alloh kau memberikan kado istimewa hari ini, ‘persahabatan’. “ Begitulah harapan yang aku ucapkan dalam hati, rasanya air mata ingin menetes, tapi kali ini, tidak akan kubiarkan! Aku bukan zenitha yang cengeng lagi. Aku pun mengambil satu potong kuenya, dengan tulisan zen diatasnya, diikuti oleh neng, ihat, ulfa, rinda, lishah, novi, dan abang. Setelah sesi pemotoan, abang pun pergi ke kelas kiki, karena kiki ulang tahun tanggal dua mei, tepatnya sehari setelah aku. Rupanya kekhawatiranku memuncak, saat aku mau pulang tapi disudut dekat tangga ada tiga gelas kopi hitam “ kali ini kamu pake kopi zeen, soalnya kelompok kita BF ga mau pake telor lagi, bauuuu.” Tiba-tiba perkataan Mareta  terngiang di telingaku. 

              Neng langsung mengambil kopinya disusul dengan ulfa, hahaha aku geli sendiri menceritakan hal ini, ulfa berinisiatif untuk mengambil tasku, agar aku tidak bisa pulang, tapi ternyata tasku berontak, muatan yang aku bawa sangat berat, membuatnya terseok-seok membawa lari tasku. Aku tertawa menyaksikan adegan ini. Aku pun berusaha mengejar ulfa. Setelah sampai di luar kelas, neng sudah siap dengan satu gelas kopi, dan di sebelahnya ada dua lagi, yang diberikan kepada ulfa. Seumur-umur baru kali ini ada orang yang mau mengerjain seseorang didahului dengan ucapan minta izin “ zeeeeen, aku siram yaaa, pleaseee, kita udah ngerencanain ini zeen, udah nyiapin juga lagi, mau yaaa?” neng dan ulfa secara bergantian mengucapkan kalimat itu. “Hahaha mana ada orang mau nyiram orang tapi minta iziiiiin” kami bertiga malah tertawa terbahak-bahak. Aduh konyol banget adegan ini. “ Faaa, ayooo siram, satu dua!” neng memulai aba-aba. “ tigaaa! Aaah ga tegaaaa!” kami pun kembali tertawa terbahak-bahak, sehingga orang-orang yang berlalu lalang di depan kami memasang wajah aneh ketika melihat tingkah kami bertiga. Akhirnya tetes demi tetes kopi itu mengenai bajuku, karena tidak terima aku pun mengenai neng dan ulfa .
” hahahaha semua kebagian,  dan yang paling parah adalah ulfaa!”
 “maaf yaa faa, lagian kamu yang mulai, hehe kan biar impas!” kami pun jadi kejar-kejaran malu sih diliatin orang, momen ini sangat spesial buatku, jadi untuk saat ini aku tidak peduli dengan kata malu.

              Karena merasa lelah, kami pun akhirnya berhenti kejar-kejaran dan berteriak, kami putuskan untuk membersihkan noda kopi, untung aku sudah mempersiapkan dari rumah, bawa tissue basah dan juga keringa. “ hahaha zeen zeen udah prepare!” sahut ihat. Aku pun membaginya dengan ulfa, kami pun membersihkan bersama-sama, hingga satpam yaitu Pak Meidy lewat, tampangnya kocak, seperti ingin marah tapi dengan wajah seperti itu, apalagi ulfa malag bercanda dan bilang “ apa bang Meidy? Jangan ngeliatin gitu doooong. Abang suka yaa sama sayaa!” sontak aku dan ihat pun langsung tertawa terbahak-bahak. Aduh paul-paul di saat seperti ini masih saja bisa berkata seperti itu. 

              Ulfa dan ihat masih harus mengikuti rapat admin untuk moonzher cup, aku pun menunggu mereka bersama neng. Aku dan neng mengisi waktu penungguan kami yang cukup lama dengan membuat perahu kertas. Hal ini karena aku teringat dengan novel yang aku baca berjudul perahu kertas. Aku pun membuatnya dengan gelak tawa, neng sempat lupa cara membuatnya, namun akhirnya ingat jugaa. Setelah perahu kami rampung, kami mengalirkannya di saluran kecil, perahu kami pun melaju, seiring dengan aliran air. Kami berdua berteriak “ yeeeayy!” nada-nada yang lebih pantas diteriakan oleh anak umur lima tahun dibanding aku yangg baru menginjakkan kaki di angka 16, dan neng yang sudah 15 tahun. Hari semakin sore, kami berdua masih memandangi perahu kami, sedangkan rapat yang diikuti ihat dan ulfa tak kunjung selesai. Akhirnya aku dan neng memutuskan untuk membeli minuman segar ke kantin kali ini neng merayuku untuk mentraktirnya, aku pun menyetujuinya, kami menanyai ulfa, ihat, dan rinda, mau minum apa? Aku dan neng pun menuju kantin. Kami membeli lima gelas minuman segar, aku membawa dua, neng membawa tiga. “ wihh strooong ! haha” kita kembali dalam gelak tawa. Karena tangan neng kedinginan, seringkali kami berhenti berhenti. Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh. 

              Setelah kami minum, rapat pun selesai. Alhamdulillah ............... pulang juga. Sepanjang perjalanan menuju gerbang, kami tertawa mengingat peristiwa sore ini, sambil menyedot minuman kami masing-masing. Kami berpisah dalam jarak yang berbeda. Aku seangkot dengan ulfa, sedangkan ihat, ranti, dan neng ke arah yang berlawanan dengan kami.

              Hari ini, aku merasakan lelah yang amat sangat menyita ruang gerakku, rasanya aku ingin langsung tidur. Hari ini, meskipun sudah lewat satu hari dari hari ulang tahunku, mereka semua masih saja merencanakan hal unik untukku. Mereka, sahabat-sahabatku. Terima kasih semuanyaaa! Kalian membuatku semakin yakin bahwa di sini aku tidak sendirian lagi, aku punya kalian, kalian selalu ada buat aku, dengan bumbu persahabatan setiap harinya. Hari ini aku mendapat siraman kopi. Kopi persahabatan di hari ulang tahunku................. aku merasakan bukan hanya sekedar kopi saja, namun hati kalian yang membuatnya menjadi kopi terspesial yang pernah aku rasakan, tentunya bukan diminum tapi disiram. Bagaikan kopi,pahit dan manis persahabatan, akan selalu ada di sisi kita semua. Namun dibalik rasa pahit itu, seluruh dunia tidak meragukan lagi kenikmatannya. Aku harap kopi persahabatan ini tetap ada meski nodanya hilang karena proses pencucian. Aku harap kopi ini membuktikan makna persahabatan. Dan kopi ini kado terindahku dalam angka 16ku. Kopi persahabatan dengan taburan makna, kebahagiaan, seru, khawatir, takut, lelah, sorak-sorai, terharu. Semuaaanyaaa. Dalam satu cangkir sederhana “ persahabatan “ .