Mozaik Puisiku
Puisi merupakan sederetan kata yang bergabung menjadi kalimat indah penuh makna. Puisi mampu memberikan beragam warna bagi yang membacanya, kepuasan batin bagi yang membuatnya. Puisi itu hati. Hati yang berkata menjelma sebagai sebuah karya, bukan karya, tapi bahasa. Karya hanya bisa menyampaikan seni dan hasil akhir saja, beda halnya dengan bahasa, bahasa mampu menyatukan perbedaan, memicu timbulnya interaksi, tumbuhnya persatuan dan kesatuan. Puisi itu abstrak, tapi keabstrakannya itu menyelinap menyentuh ruang terindah dalam hati, eskpresi yang nyata. Aku juga tidak tahu mengapa aku suka pada satu hal ini, sejak kapan aku mulai menyukainya pun aku lupa. Yang aku ingat, dulu aku sangat tidak suka dengan puisi, apalagi ketika ada tugas membuat puisi, pasti aku menggerutu bahkan sampai bertekad tidak mengerjakannya, namun demi nilai, aku mengerjakannya, tapi jika disuruh dengan tema bebas, tidak diragukan lagi, aku selalu membuat puisi tentang Ibu atau tentang Guru, itupun hanya 4 bait maksimal, 4 bait yang membuat otakku nyaris keriting.
Puisi pertama yang aku buat dengan luapan ekspresi sekaligus emosi, aku buat untuk Santi, aku benar-benar merasakannya, keindahan saat tangan ini menari indah di atas lembaran kertas, menggoreskan pena, merasakan semua perasaan tumpah ruah. Tapi saat itu pun, belum mampu membuatku tertarik dengan hal yang satu ini. Hingga pada suatu saat di kelas 8, Pak Deni meminta aku dan Nourma mengikuti lomba Cipta Karya Puisi, kami harus membuat tiga puisi dengan tema yang berbeda dan parahnya mau tidak mau ya harus mau, waktunya pun hanya satu malam ini, karena ternyata perlombaannya diadakan besok pagi juga. Selama di rumah aku berpikir keras, hal ini bertolak belakang dengan diriku, biasanya aku diikutsertakan dalam even lomba olimpiade yang berhubungan dengan hitungan, yaitu Matematika, meski memang belum pernah menuai kemenangan, paling menang juga di tingkat kecamatan, pernah sih sekali di Pasiad, itu juga menurutku faktor keberuntungan, karena setelah itu pasti gagal.
Bayangkan tiga tema dalam satu malam, aku bisa muntah dibuatnya, tiga tema itu adalah lingkungan, pendidikan, dan politik. Ya Alloh, sampai siang berganti senja pun aku belum mendapatkan setitik pun inspirasi. Malam itu, aku benar-benar dibuat pusing dengan lomba yang satu ini, lembaran demi lembaran terbuang begitu saja, hanya coretan belaka. Sampai pukul 8 malam, aku belum juga berhasil menciptakan satu bait pun. Rasanya ingin marah dan menangis. Aku pun langsung curhat kepada Papahku, meminta saran dari beliau. “ Memangnya temanya apa aja teh?” tanya papah kepadaku. “ Ada tigaa, lingkungan, pendidikan, satu lagi politik.” Jawabku kesal. “ Yaudah bikin.” Ujar papahku enteng. “ Tapi ga ada ideee, paaah.” Jawabku bertambah kesal. “ Kenapa ga mulai dari yang tema politik aja, tuuh liat di televisi banyak banget ulah pemerintah yang membuat rakyat menangis, tersiksa, sedangkan mereka apa? Menjual janji palsu demi kekuasaan dan materi!” tutur papahku dengan menggebu-gebu. Aku hanya terdiam dan kembali ke kamar, tanpa sepatah kata pun, tatapanku kosong, bingung dengan perkataan papah, sekaligus terpana.
Tiba-tiba kalimat papahku terngiang-ngiang di telingaku, ditambah lagi emosiku saat itu telah mencapai titik kulminasi, karena belum mampu menciptakan satu pun bait dalam kertasku. Seketika itu juga, kemarahanku berubah, aku marah bukan karena aku belum juga mampu menciptakan satu bait pun, tapi aku marah dengan kelakuan pemerintah, aku muak dengan politik! Aku benci politik! Politik saat ini hanyalah wadah penyiksaan bagi rakyat, politik saat ini bukanlah demokrasi yang diagung-agungkan, politik saat ini adalah abu-abu..... emosiku meletup-letup di dalam dadaku, keringatku bercucuran, entah mengapa saat itu juga, aku langsung menyambar pulpen yang ada di sampingku tidak lupa kertasnya juga, seperti ada yang bergerak di hatiku, gerakan itu membuat tanganku dengan cepatnya menggoreskan pena di atas kertas putih, tidak peduli seburuk apapun wujud tulisanku. Akhirnya tidak kusadari 6 bait pun rampung, aku melompat bahagiaaaa, berteriak, suaraku seolah memecah kesunyian malam di kamarku. Aku berhasiiiiil............... !!!!
Aku merasa aneh, aku merasa lebih lega, seperti sudah mengeluarkan ekspresiku yang selama ini tidak pernah aku sadari. Aku tidak mempedulikan keanehan itu, aku pun melanjutkan untuk dua tema lagi, kali ini aku memilih membuat tentang lingkungan terlebih dahulu, aku mencoba membayangkan alam saat ini, alam yang telah tercemar, tangisan alam jika saja bisa menangis, rasa berontak bumi ini kepada para manusia yang hanya menumpang tapi merusak, aku pun langsung mendapat inspirasi, bedanya saat aku menulis bait demi bait dengan tema lingkungan, perasaan yang hadir di hatiku adalah sedih, kecewa, tidak menyangka, bahwa manusia termasuk aku, sejahat itu kepada bumi.
Dua puisi pun selesai aku merasakan rasa damai dan tenang mendesir mengalir bersama aliran darahku, benar-benar lepas.. Seperti telah melepas semua beban, mukaku langsung berseri, bahagia yang sulit aku tebak apa sebabnya. Bahagia kali ini, membuatku ingin membuat puisi lagi, biasanya jika aku membuat puisi paling maksimal 4 bait kan, itu juga sesudah itu pasti males banget bikin lagi, tapi sekarang beda, ada yang berubah pada diriku, aku ingin menulis lagiiii, aku ingin merangkai kata lagi, tapi apa daya mataku sudah memberontak, akhirnya aku pun tertidur pulas.
Aku terbangun dari tidurku tepat pukul 3 dini hari, aku terbangun dan baru ingat kalau masih ada satu tema lagi, yaitu tentang pendidikan. Karena kantuk masih menggelayuti kelopak mataku, jadi jangankan mendapat ide, berusaha membuka mata pun susah. Aku pun mencuci mukaku, sekalian berwudhu, sholat tahajud dan berdo’a. Memang keajaiban do’a, perlahan aku mendapat ide itu, suasana sekolah tergambar dibenakku, semangat putih biru saat berangkat, kebahagiaan ketika guru tidak hadir di kelas, dan perjuangan demi mimpi di langit yang menunggu kita untuk menjemputnya.
Akhirnya selesai juga, bismillahirohmanirrohim. Semoga lancar. Amiiiiiiiiin. Pagi harinya aku dan Nourma hanya mengikuti pelajaran pertama dan kedua, selebihnya kami berangkat untuk mengikuti lomba cipta karya puisi. Sesampainya di sekolah tuan rumah, kami berbaris sebentar kemudian masuk ke ruangan yang sama, ya, aku dan Nourma satu ruangan, bersebelahan malah. Kami dibagikan lembar kosong, kami pun memulai menulis puisi kami, untung saja aku sudah menghafalkannya, ternyata dari ketiga tema itu kita hanya menuliskan satu diantara ketiganya , aku memilih tema politik, karena aku menyadari luapan ekspresiku sangat nyata saat aku menulis puisi yang satu ini. Aku pun berhasil menyelesaikannya, setelah itu puisi ini dikumpulkan kepada pengawas, aku dan Nourma pun keluar ruangan, langsung menemui Pak Deni. Kami pun pulang, kembali ke sekolah. Kami hanya perlu menunggu hasilnya. Minggu depan hasil itu akan diumumkan.
Tidak pernah aku sangka, kalau aku bisa memenangkan lomba ini, lomba Cipta Karya Puisi, padahal ini adalah pengalaman pertamaku, beda halnya dengan olimpiade matematika atau lomba bidang studi lainnya yang sudah aku ikuti berulang kali, tapi tidak membuahkan kemenangan yang berarti, sekarang, aku dinyatakan sebagai Juara II Lomba Cipta Karya Puisi se-Kabupaten. Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Alloh dan juga masih tidak percaya. Aku mulai bertanya dalam hati, apakah ini suatu keberuntungan atau memang bidangku ada di sini?
Semenjak itu, aku yakin ada sesuatu dalam diriku, mozaik puisi yang seketika itu menyelinap ke dalam minatku. Setiap aku mengalami periwtiwa yang menarik, aku selalu melukiskannya melalui bait-bait puisi. Begitu pula kepada sahabat-sahabatku, aku selalu menyelipkan lembaran puisiku untuk mereka, sebagai kenang-kenangan. Teman-temanku menerimanya dengan senang hati. Aku merasakan kebahagiaan yang sulit untuk kupahami. Aku merasa memberikans senyuman bagi mereka melalui puisi. Aku menyukai bidang ini. Mozaik puisiku selalu aku susun bait demi bait, peristiwa demi peristiwa, suatu saat nanti aku ingin seperti Chairil Anwar. Meskipun cita-citaku adalah menjadi dokter, aku sangat ingin sambilanku membukukan mozaik puisiku serta ingin juga menjadi penulis. Aku ingin memberikan kebahagiaan melalui kata-kata, aku ingin mengajak semua orang menikmati bahasa yang indah, menghargai bahasa Indonesia, dan mencintais seni.
Dan seperti air sungai yang mengalir, bait demi bait puisi aku buat hanya sekedar untuk menggambarkan suasana hatiku. Aku bukan maestro yang dengan lihainya merangkai makna, menciptakan maha karya, aku hanya ingin membuat diriku damai melalui puisi, aku ingin membuat semua orang tersenyum dengan bait-bait sederhanaku, terlebih lagi aku bukan tipe orang yang berani langsung mengekspresikan semuanya dengan lisan, aku lebih suka media tulisan, lebih bijak menurutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar