MY LOTUS

MY LOTUS

Jumat, 19 November 2010

LISAN GERBANG HARAPAN

Oleh Zenitha Meida Sari


        Bumi ini adalah suatu bola yang berotasi dan berevolusi. Matahari senantiasa setia menjadi pusat tata surya. Semua planet mengelilinginya. Salah satunya adalah bumi. Bumi berevolusi selama kurang lebih 365 hari atau sekitar satu tahun. Di lain sisi, bumi juga melakukan rotasi yaitu berputar pada porosnya. Sungguh besar karunia Ilahi. Ia menciptakan tata surya dengan sejuta keunikan dan pengetahuan. Tak lupa juga Ia menciptakan makhluk penghuni dari planet istimewa ini, yaitu bumi. Dari semua planet di seluruh galaksi tata surya, bumi adalah inti dari kehidupan. Datarannya sebagai pijakan, langit biru adalah atapnya.


        Salah satu dari makhluk penghuni bumi ini adalah manusia. Makhluk ini dikaruniakan akal dan pikiran. Mereka mampu memimpin karena mereka ditakdirkan untuk menjadi seorang khalifah di bumi. Sederhana tapi luas, itulah mereka. Semua kehidupan baik kenegaraan, masyarakat, bahkan lingkup terkecilnya adalah keluargapun, pasti memiliki pemimpin. Satu fakta yang seharusnya membuka gerbang syukur atas nikmat-Nya adalah setiap manusia dipercayakan menjadi pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri. Pemimpin yang berhasil berawal dari keberhasilannya memimpin dirinya sendiri. Karena di dalam satu raga dan jiwa saja masih terdapat konflik. Mereka yang berhasil adalah yang berhasil mengarahkan jiwa raganya pada suatu yang bermanfaat dan tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi. Setelah ia berhasil memimpin dirinya sendiri dan memahami apa kekurangan dan kelebihan yang dimilikiya. Barulah ia melangkah menuju lingkup yang lebih dinamis. Di sinilah akan ada pertemuan berbagai karakter insan manusia. Berawal dari lingkup keluarga, di dalamnya terdapat ayah, ibu dan anak. Kesemua anggota itu pasti memiliki karakter berbeda. Sang ayah yang telah berhasil memimpin dirinya, harus membuktikan keberhasilannya juga di dalam keluarga. Setelah keluarga, menuju lingkup masyarakat. Lingkup ini sangat luas dan dinamis. Dari mulai rukun tetangga hingga suatu negara bahkan mendunia dengan globalisasi.


        Semakin luas lingkup yang ia pijak. Maka semakin besar juga tugas memimpin setiap orang. Bukan sekedar memimpin, tapi mengendalikan dirinya serta menyesuaikan dengan peradaban atau lingkungan dimana ia berada. Semua itu bagai roda kehidupan yang putarannya sangat cepat dan tak terduga. Jika kita tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang ada maka kita tak kan mungkin mendapat kesempatan itu lagi meskipun ada kemungkinan untuk kesempatan kedua. Otak, akal nurani,serta lisan adalah komponen yang terangkai sempurna di dalam raga seorang manusia. Semua itu adalah modal untuk menjalani kehidupan. Unsur dasar yang mampu dikembangkan lagi menjadi suatu unsur dasyat. Semua itu tergantung dari manusia itu sendiri. Otak adalah pusat pemikiran serta proses tubuh, pusat syaraf, dan peredaran. Ia adalah organ halus yang sangat rapuh dan sangat mudah untuk hancur. Pelindungnya hanya tulang tengkorak dan selaput meningis, hanya tulang dan selaput yang ketebalannya tidak seberapa, tapi mampu melindungi organ paling penting dan rapuh ini.


        Di lain sisi, ia juga mudah rusak hanya dikarenakan oleh kecerobohan kita sendiri. Baik kerusakan fisik maupun dari pola berpikir. Kerusakan fisik itu berarti kita gagal merawat kesehatan organ terpenting ini sendiri dan menghindari benturan yang dapat mengganggu sistem syaraf. Jika kesehatan otak terganggu pastinya rangkaian pemikiran pun akan terganggu bahkan tidak mampu menghasilkan pemikiran yang sesungguhnya. Bahkan meskipun ia dalam keadaan sehat tanpa ada kerusakan jaringan di dalamnya, manusia pun masih mempunyai peluang besar untuk menghasilkan pemikiran yang seharusnya tak perlu dilakukan oleh seorang khalifah bumi. Tindakan-tindakan adalah hasil dari kematangan berfikir itu, semua pemikirannya akan disalurkan melalui serabut syaraf atau neurit yang menghubungkan syaraf satu dengan yang lainnya dan akhirnya mencapai efektor atau otot. Di sinilah rangkaian gerak akan terjadi. Rangkaian gerak itu akan saling keterkaitan dan membentuk suatu perilaku atau tindakan manusia dalam menanggapi rangsangan yang hadir di lingkungannya.


        Komponen kedua adalah akal. Ia bersifat abstrak atau tidak memiliki unsur fisik, tapi ia nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ia adalah pangkal dari tindakan dan hasil faktor dari pemikiran. Jika akal manusia itu baik, berarti ia mampu mengendalikan semua tindakan bahkan pemikiran dari hal-hal yang bertentangan dengan rangkaian norma yang ditaati dalam suatu lingkungan. Pondasi disini adalah agama. Agama adalah perisai untuk melindungi setiap besitan pemikiran yang dihasilkan oleh akal.


Komponen ketiga adalah nurani. Nurani adalah hati dan perasaan yang dimiliki secara alami oleh setiap insan manusia. Ia adalah pertimbangan kemanusiaan. Dari nuranilah muncul perbuatan baik dan berprikemanusiaan. Ketika nalar tak berjalan, jika melihat suatu kondisi, maka nuranilah yang mengambil alih, dan seolah mucul getaran dalam hati, itulah peran nurani, agar setiap insan manusia memiliki perasaan yang halus dan berbudi luhur kepada satu sama lain dalam interaksinya di kehidupan,


        Komponen keempat adalah lisan. Lisan adalah pangkal dari ucapan, lidah itu tak bertulang tapi ia mampu menjelma menjadi pedang yang tajam bahkan menjadi seekor harimau yang buas. Tidak terbayangkan oleh nalar, lidah yang panjangnya tak seberapa mampu menjelma menjadi berbagai macam bentuk. Maksudnya disini adalah, lisan mampu mengubah semua hanya dengan butiran-butiran kata. Terkadang ia mampu membius setiap insan lainnya dengan kelembutan tutur katanya. Tapi ia juga mampu menghujamkan pedang yang lebih tajam dari samurai ke ulu hati. Dasyat tak terkira komponen yang satu ini. Bahkan islam saja seringkali menganjurkan untuk senantiasa menjaga lisan itu sendiri. Karena kedasyatannya akan berpengaruh pada keharmonisan suatu interaksi sosial. Bahkan ia mampu menghancurkan dunia hanya dengan adu domba. Pecah belah dan hilangnya kedamaian bisa diciptakannya dalam waktu yang sangat singkat. Lisan adalah ‘Gerbang Harapan’, dimana setiap kata yang terucap dari lidah rapuhnya memancarkan harapan bagi yang mendengarnya. Harapan akan realita dari ucapan itu.


        Seorang presiden tak kan mampu menduduki kursi megah negara jika tanpa kemahirannya dalam berbicara. Ia mampu merangkai kata agar indah terdengar di telinga sederhana rakyat yang dengan mudahnya terperdaya akan tipu ucapannya. Bahkan sumpah sudah bukan berarti hal yang sakral lagi. Buka mata dan telinga banyak sekali kasus di negeri ini para pejabat tinggi negara yang sudah diberi segenap kepecayaan oleh rakyat yang berharap kemakmuran melanggar kepercayaannya itu, mereka bahkan seolah lupa dengan sumpah maha sakralnya di atas al-qur’an kitab suci yang sungguh dijamin oleh Alloh Sang Penguasa Alam ini, bahkan seisi jagat raya mengakui kesuciannya, tetapi malah dinodai oleh lisan para pejabat itu, sumpah palsu mengatas namakan al-qur’an sungguh keji. Mereka bagaikan berlindung dibalik kesuciannya untuk menggenggam ambisi dan kekuasaan. Mata dan hati mereka membatu seperti ucapannya, lisan sang gerbang harapan bagi rakyatnya kini hanya khayalan. Rintihan rakyat yang meminta kenyataan dari ucapan itu tak mereka hiraukan lagi. Hanya karena sepatah atau dua patah kata yang terlontar dari lisan mereka menimbulkan benih harapan di setiap hati rakyat yang mendengarnya. Harapan itu seakan memuncak bahkan mencapai dunia khayal imajinasi. Bahkan mereka tak peduli dengan realita, sungguh keji, saat rakyat terbuai dengan harapan-harapan suci, mereka para oknum terlena dengan kekuasaan dan kekayaan, mereka tak mendengar rintihan rakyat. Bahkan lupa dengan gerbang harapan yang telah mereka buka di hati suci rakyat Indonesia. Kini gerbang harapan itu hanyalah lorong penantian dan berakhir pada kekecewaan. Harapan yang tumbuh menjelma menjadi harapan kosong dan hampa. Benar kata al.hadists bahwa lebih baik diam. Karena jika hanya mampu membuka gerbang harapan itu melalui butiran kata baik disengaja maupun tak disengaja, tanpa mampu memberi realita dan hasil dari kata-katanya, sama saja dengan membohongi. Lisan adalah komponen paling berbahaya, ia mampu menjelma menjadi apa pun di dunia yang fana ini. Lisan memang gerbang harapan. Maka jagalah lisanmu dari gerbang itu, jangan sampai butiran katamu membukakan gerbang harapan bagi orang yang mendengarnya, karena hanya lorong penantian saja yang akhirnya didapatkan bahkan berbuah pada segumpal kekecewaan yang mendalam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar