MY LOTUS

MY LOTUS

Jumat, 24 Juni 2011

BF ( Be The First )

BF ( Be The First )

              Langit tampak cerah dengan pagi barunya, biru selalu di setiap sudutnya, indah memanjakan setiap pasang mata yang memandangnya. Langit selalu memiliki pagi yang baru, pagi yang baru untuk memulai semua yang baru. Mungkin inilah yang aku hadapi sekarang, semenjak kepindahanku dari Puri Permai, Tigaraksa, aku pikir di sini, aku tidak akan mampu mendapat keindahan hari seperti di sana, aku selalu takut tidak mampu mendapat pengganti mereka, para teman dan sahabat baikku. Rasa takut itu beberapa hari tidak mampu lenyap dari benakku, aku selalu mengingat mereka, tidak jarang, pipiku perlahan basah oleh air mata, khayalku melayang jauh ke sana, ke masa-masa aku masih dengan sang putih biruku, masa-masa aku bersama mereka, bercanda bersama, saling jail, saling meledek, sampai bersedih bersama. Masa-masa indah, bahkan sangat indah, aku seolah tidak rela semua itu kini hanya menyandang status kenangan, sekali lagi hanya kenangan! Kenangan yang hanya mampu dikenang. Belum lagi, aku baru sadar bahwa aku adalah satu-satunya siswa dari SMPN 02 TIGARAKSA yang mendaftarkan diri di SMAN 02 TANGERANG SELATAN ini, sungguh menyedihkan. Ini benar-benar mozaik baruku, bagaikan kertas putih yang belum tersentuh oleh penaku, bahkan aku sendiri masih bingung akan menggoreskan apa di atas kertas itu? 

              Di Tigaraksa, banyak kisah persahabatanku yang begitu indah terukir di sana, di sanalah aku bersahabat sekitar 10 tahun bersama salah seorang sahabatku bernama Nourmayanti, disana jugalah pernah kisah persahabatanku tidak direstui oleh salah satu guru SMPku, di sana, aku menemukan makna persahabatan. Apakah di sini, aku akan menemukannya juga? Apakah seindah dulu? Apakah sama? 

              Berbagai pertanyaan memenuhi ruang pikirku, lebih tepatnya mengancamku. Seiring dengan berjalannya waktu, aku menemukan sesuatu yang membuat aku nyaman berada di sini, di sekolah baruku. Berawal dari program ESQ, sewaktu MOP, Alloh mempertemukanku dengan empat orang. Sebenarnya, kami sudah saling berkenalan sejak masa-masa MOP, karena memang aa dan teteh ( panggilan untuk kaka kelas saat MOP berlangsung ) mewajibkan kami untuk saling mengenal satu sama lain dalam waktu satu kali pertemuan.  Dasyat bukan? Satu kali pertemuan, di mana itu benar-benar momen sangat asing bagiku, tidak ada satupun yang aku kenal waktu itu, namun sepertinya Alloh masih menemaniku, perlahan tapi pasti ku mampu mengenal mereka. 

Kebetulan sewaktu di Gedung DRN, aku kembali dipertemukan dengan empat orang teman sekelasku, terlebih lagi, kita saling duduk bersebelahan. Aku, Cindy, Farry, Mareta, dan Ranti, namun di antara kami masih terlihat kekakuan satu sama lain. Maklumlah, namanya juga baru saling berkenalan beberapa hari lalu. Hari itu kami benar-benar bersama, dari mulai awal acara, sesi tangis menangis, makan siang, sampai pulang. Perlahan ada sesuatu ganjil yang menyelinap di dalam hati dan batinku, aku merasa seperti berada di tengah-tengah sahabat-sahabat SMPku. Apa aku…..?

              Hari pertama ku menyandang status siswi SMAN 02 TANGERANG SELATAN, berada di lingkungan sekolah yang baru, yang akan menjadi saksi bisu selama tiga tahun ke depanku menuntut ilmu di dalamnya. Tentu saja dengan semua yang serba baru, kelas baru, guru baru, teman-teman baru, dan peraturan baru. Sadarku saat ini aku telah diberi kehormatan untuk memakai seragam putih abu, berarti aku telah bertambah dewasa, ya seharusnya aku bertambah dewasa, namun sebaliknya aku merasa aku masih zenitha yang belum mampu dikatakan dewasa, yang masih labil dan tidak pasti, bahkan untuk mengatakan iya atau tidak, Zenitha yang masih meminta saran mamah papah, baru bisa melaksanakannya, Zenitha yang masih mengeluh saat satu hal tidak bisa dilewatinya, bahkan menangis saat semuanya terasa berat, Zenitha yang masih sulit percaya pada dirinya sendiri, zenitha yang masih takut, yang masih malu mengemukakan apa yang ada dipikiran. Aku masih belum berubah! Mungkin seragamku yang berubah, tapi aku masih Zenitha yang dulu, masih sama, belum ada sedikitpun perbedaan yang signifikan. 

              Pada awalnya aku merasa sangat takut untuk bersekolah di SMAN 2 TANGSEL, karena hanya aku dari SMPN 2 TIGARAKSA yang memilih bersekolah di sini, semua temanku bersekolah di SMAN 6 KAB. TANGERANG, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari SMP. Aku takut tidak mempunyai teman, aku takut! Seolah-olah hanya kata takut yang menguasai pikiranku. Entah mengapa aku bisa setakut dan sepesimis ini, apalagi kalau melihat mereka semua bergabung bersama teman satu SMP, sungguh aku ingin menangis saat itu juga, inilah aku, masih cengeng, bahkan untuk hal sepele. Namun tidak diduga, perlahan, aku pun mengenal satu persatu dari teman sekelasku, mereka baik, sopan, seru, dan asik. Dari semua itu, rupanya aku lebih sering bersama Farry, Mareta, Cindy, dan Ranti. Kebetulan tempat duduknya pun tidak terlampau jauh, Cindy dan Ranti ada persis di depanku, Farry dan Mareta ada di sebelahku. Aku merasa nyambung jika bersama mereka, aku merasa…. Aku merasa aku… aku tidak takut lagi, aku tidak takut lagi kesepian tanpa teman. Semenjak ada mereka, aku selalu tertawa, bercanda, saling ledek, bahkan bermain sampai belajar semakin seru. Aku juga bingung apa yang membuatku merasa dekat dengan mereka?

              Apa kita berlima memiliki kemiripan, kecocokan satu sama lain,ehm bukan berarti tidak cocok dengan teman yang lain, karena menurutku semuanya sama, sama teman baik untukku. Bahkan kami pun punya nama panggilan tersendiri, Farry, yang sikapnya tomboy dipanggil abang, Ranti dipanggil neng, cindy dipanggil cindai, aku dipanggil zenzen, dan mareta dipanggil maremare. Pokoknya itu ciri khas nama panggilan kami kalau kami sedang ngumpul berlima. Sikap kami pun berbeda-beda, kalau Farry, jangan ditanya, dia sampai mendapat gelar abang, karena katanya dia kayak abang-abang, tomboy banget, dia sering diledek, ototnya kekar, suaranya tiada tanding, menggema seantero kelas bahkan ruang kelas lainnya dan lebih parahnya lagi sampai terdengar di lantai bawah, hebat kan?  Ranti yang senang banget dengan hal-hal yang berbau film, apalagi cara membuatnya, pantas saja ia masuk ekskul cinemoon, ia juga seru, sedikit pendiam pada awalnya, tapi ternyata setelah kenal dekat, dia supel, karena Ranti yang pertama memanggil Farry dengan sebutan Abang, jadi Farry juga memanggil Ranti dengan sebutan Neng, betawi banget kesannya, tidak apa, hitung-hitung melestarikan budaya tradisional, lebih tepatnya panggilan tradisional. 

              Cindai, yang satu ini memiliki sikap periang tiada tara, paling sering tertawa, dan suara ketawanya itu menggoda siapa saja yang mendengar, sehingga membuat orang ikut ketawa meski dia tidak tahu apa  yang lucu, salah satu korbannya adalah aku, aku paling tidak kuat kalau Cindy sudah tertawa, aku pasti ikutan, padahal terkadang aku tidak mengerti apa yang lucu, pokoknya kalau ada suara ketawa Cindy langsung spektakuler. Mareta. Yang satu ini Chinese banget, mukanya paling putih diantara kita berlima, tapi dia paling muda, jangan salah, meski paling muda, menurutku dia paling dewasa, yang paling khas dari Mareta, tatapannya, tidak ada yang tahan kalau sudah dipandang mareta, banyak yang bilang sinis, tetapi itulah keunikannya, satu lagi, banyak sekali kemiripan antara aku dan Mareta, kita sama-sama suka banget baca novel, suka memandang langit, suka mengkhayal keliling dunia, dengan Negara-negara yang sama. Bahkan sampai lagu justin bieber yang disukai pun judulnya sama. Ya bisa dibilang, aku bagaikan becermin kalau dengan Mareta, bedanya mungkin Mareta sangat kental chinesenya, sedangkan aku, jawa barat, mungkin? Jika ada salah satu dari kami tidak ada, maka rasanya tidak seru. Kalau kata orang kita kurang afdol. Di sinilah lembaran persahabatan baru yang akan kurajut, aku akan berusaha membuatnya kokoh meski sehalus sutera, aku senang bisa dekat dengan kalian, dan aku menganggap kalian sahabatku.    

              Setiap ada kerja kelompok, pasti kami memilih beranggotakan kami berlima, walaupun ada satu atau dua orang tambahan, tapi sejauh ini, kalau kelompok memilih sendiri, pasti kami berlima. Hingga pada suatu waktu….. ketika itu sedang dalam pelajaran Pkn yang diajar oleh wali kelas kami sendiri yaitu Pak Toha, kami mendapat tugas kelompok menuliskan tentang pelanggaran hukum, kami mendapat pelanggaran yaitu korupsi. Kami bersemangat ingin menjadi yang pertama mengumpulkan tugas itu di tangan Pak Toha, saat itu, aku yang kebagian tugas menulis, yang lain berpikir sambil mendikteku, “ ayoo zenitha, ayooo cepeet,, ayooo kita yang pertama.” Semangat mareta dan farry. “Kita kan Be the First,” serbu Mareta yang saat itu juga dimantapkan oleh Ranti dan diiringi prosesi ‘tossan’. Akhirnya memang kelompok kami yang pertama mengumpulkan kertas tugasnya. 

              Setelah jam Pkn selesai, dilanjutkan dengan pelajaran bahasa Inggris, yang diajar oleh mrs.Yulan. beliau sangat baik, dan lembut. Kebetulan saat itu, practice conversation in front of the class, tetapi, kebanyakan dari kami merasa malu, kalau harus di depan kelas, sehingga berdialognya hanya di depan Mrs. Yulan saja, meskipun begitu, aku masih saja merasa gerogi,namun akhirnya aku maju juga, berdialog dengan my chairmate, Ariella. Alhamdulillah, kami berdua urutan yang terakhir, sehingga semua teman-teman sudah banyak yang beristirahat atau sholat dzuhur. 

              Bunyi bel pun berdering, seolah memberi sedikit kerenggangan untuk otak kami beristirahat sejenak, menenangkan pikiran sesaat. Kebetulan hujan rintik-rintik hujan terlihat turun membasahi permukaan genting, sehingga kilaunya sampai ke pelupuk mataku, dan aku pun keluar kelas melihat hujan yang sedang bercengkrama dengan bumi. Bukan aku saja, yang keluar kelas, diikuti Abang, Neng, dan cindy, entah angin apa yang membuat satu ide diantara kami, “ Gimana kalau kita bikin kelompok belajar, Bf, Be The First, kita berlima,” kata abang,   “boleh juga tuh,,,,” sahut aku, Cindai, dan Neng. “terus kita tentuin jabatannya, gimana?” tambah abang. “setujuuuuu!” sorak kami bertiga heboh. Saat itu, mareta masih berada di dalam kelas.
Hasil keputusannya……….
Kelompok kami adalah ‘Be The First’, sesuai dengan motto kita selalu ingin menjadi yang pertama. Berikut ini adalah anggota beserta jabatannya :
Ketua     : Abang Farry
Wakil     : Neng Ranti
Sekretaris        : Zenitha (aku sendiri)
Bendahara       : Cindai
Tim sukses       : Mareta

Wah pasti seru, sudah komplit plus jabatannya pula, karena Mareta masih berada di dalam kelas, Abang memanggilnya, dan ia tampak sama hebohnya seperti kami berempat. Kehebohan ini harus terhenti sejenak, karena kami harus sholat dzuhur. Saat ini, kami istirahat di akhir jam, maksudnya, jam terakhir itu digabung sehingga istirahatnya ya sekalian menunggu pulang, jadi waktu kami mau sholat, kelas yang lain masih belajar, ssstsss,, makanya jangan berisik, nanti kena marah. Seolah tidak takut kena marah, kami menuruni tangga sembari membawa mukena, dengan cekikikan, ditambah lagi, diselipi permainan kecil, melalui ‘gambreng’, memilih teman-memilih teman, akhirnya yang kalah harus membawa barang bawaan kami semua, dan tidak diduga, Mareta sang tim sukses, rupanya sedang mengerjai Abang ketua, jadi mau bagaimanapun posisi tangan Abang, putih, atau hitam, tetap saja, yang kalah ya abang, sehingga diiringi tawa, abang pun membawa barang bawaan kami, meski hanya mukena, tapi ribet. Mareta tampak puas, karena aksi jahilnya berhasil sempurna. Hebaaat tim sukses!

              Sepanjang langkah menuju masjid, kami masih cekikikan, hingga harus tutup mulut, menahan ketawa, agar kelas lain tidak terganggu oleh ulah kami berlima. Di masjid pun, ternyata sesi cekikikan belum selesai, semakin menjadi-jadi dengan adegan mengambil pasangan sepatu, mareta memang ahlinya! Setelah menamatkan sholat dan do’a, kami kembali melanjutkan permainan yang tadi, melalui gambreng, yang kalah, membawa barang bawaan kami, namun kali ini rupanya abang sudah sadar, kalau mareta mengerjainya, ia pun menolak.

Akhirnya berganti permainan, yang nyampe terakhir berarti gossip akan ia dapatkan. Wah perasaanku sudah tidak enak, benar saja, aku kalah. Tapi aku tidak peduli dengan gosip. Di kelas, kami semakin heboh, namun, nampaknya sedikit berkurang, karena mungkin baterai kami lowbat kali yaa? Sehingga kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan meneguk air dari botol kami masing-masing. 

              Melodi bel terdengar seolah memanggil kami lembut, dibawah awan yang bergelayut manja di atas kelabunya sang langit, yang tadi menumpahkan tangisannya. Melodi bel itu bertanda kami harus berkemas pulang, berarti telah usai untuk hari ini di moonzher tercinta. Momen yang sangat melelahkan namun bermakna besar dan merubah kami semua ke depannya. Setelah bf terbentuk, kami semakin dan selalu berlima, seolah telah direkatkan dengan lem atau perangko. Satu hal. Aku merasa bahagia ketika bersama mereka, aku seolah menemukan persahabatan baru di sini, sebagai pelangi yang akan mewarnai hari-hariku di sini, dan aku akan terbiasa tanpa teman SMP, bukan berarti ku melupakan, hanya saja, menyimpan mereka sebagai keabadian ingatan, dan melanjutkan hidupku, di sini, bersama teman dan sahabat baru.

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar