Rasanya baru kemarin ku melepas gelar sebagai seorang siswa sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi yaitu sekolah menengah pertama. Saat itu pilihanku jatuh pada sebuah SMP Negeri 2 Tigaraksa. Diawali dengan berbagai tes akhirnya ku diterima juga di sekolah ini, bahagia bercampur bangga karena ku dapat melalui semua, namun ini seakan mukjizat bagiku karena sungguh merupakan perjuangan yang besar saat menjawab soal-soal yang diberikan, sulit hingga pesimis menyelimuti segenggam harapanku. Di lain sisi ku juga bisa bertemu lagi dengan teman-teman SDku, betapa tidak sekitar 13 temanku sama-sama menjatuhkan pilihan kepada sekolah SMPN 2 Tigaraksa ini. Sungguh perjalanan waktu yang menakjubkan, tak ku sadari kekuatan waktu telah menunjukan kedasyatannya pada diriku, waktu selama enam tahun berlalu begitu saja di hadapanku seolah memberi salam perpisahan dan menyemangatiku tuk terus melangkah maju menuju lembaran baru yang telah siap menyambutku dengan segudang kisah yang nantinya ku tergores bersama di dalamnya. Tak kuasa syukurku terucap dari lisanku seraya takjub akan takdir ilahi.
Seperti di beberapa sekolah lainnya, SMPN 2 Tigaraksa juga setia mengadakan tradisi masa bimbingan siswa atau yang sering disebut dengan sebutan ‘Mabis’, ada juga yang bilang masa orientasi siswa atau disebut ‘Mos’, sebenarnya tergantung orang mau menyebutnya apa, tapi semua sebutan itu memiliki tujuan yang sama. Tujuannya adalah agar para siswa baru tidak kaku dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru yang kelak menjadi saksi bisunya selama 3 tahun ke depan. Melalui kegiatan ini, siswa juga dapat mengenal hal-hal baru yang mungkin baru ditemukan di sekolah ini seperti teman baru, guru baru, keadaan kelas baru, dan masih banyak lagi. Acara ini dipersiapkan sesempurna mungkin agar semua siswa dapat menikmatinya dengan rasa bahagia bahkan kagum. Pengalaman mabis ini merupakan pengalaman pertamaku, pertama kali ku begitu terkejut melihat siswa yang jumlahnya ratusan berkumpul di lapangan, sebelumnya ku tidak pernah menyaksikan pemandangan ini, betapa tidak sewaktu ku bersekolah di SD Dewi Kunti, jumlah siswanya tak pernah mencapai jumlah luar biasa seperti ini. Ritual pun dimulai, kakak senior mulai membentak-bentak dan memasang wajah serem layaknya sedang berakting antagonis di depan sutradara. Suasana ini menarikku dalam ketakutan yang tak ku mengerti. Acting kakak senior memang top, sampai tak ada satu pun dari kami anak mabis yang berani mengarahkan kedua bola mata ini untuk sejenak memandang muka mereka yang super serem. Tugas-tugas aneh mulai diberikan. Dari mulai rambut harus dikuncir memakai pita merah putih dan jumlahnya tidak tanggung-tanggung sampai 20 pita, dengan porsi yang ditentukan kiri dan kanan sampai menggunakan tas dari kantung kresek, memakai kaca mata kuda, tanda pengenal dari kardus, hingga kalung permen tak lupa tergantung anggun di leher kecil kami. Dengan polosnya kami pergi ke sekolah dengan keadaan seperti itu, awalnya ku malu tapi ku sadar semua juga mengalami hal yang sama.
Hari senin diawali dengan upacara bendera terlebih dahulu serta tanda dimulainya acara masa bimbingan siswa ini. Bel bordering nyaring simbol semua dimulai detik ini juga, gema tepuk tangan mengisi seluruh ruang telngaku, teriakan kakak senior pun terdengar bersahut-sahutan di sudut-sudut barisan. Kami pun masuk ke kelas dengan diiringi bentakkan kakak senior, mungkin acting antagonisnya sedang dimulai. Rutinitas ini dilewati selama seminggu penuh, ditambah ritual menginap di sekolah juga. Seru, senang, lelah, kesal, sedih, semua memenuhi ruang hati dan pikiranku menjadi warna indah yang hingga kini masih tersimpan erat dalam memori sederhanaku. Ku yakin semua juga kan merasakan hal yang sama denganku.
Hari demi hari ku lalui di bawah atap kelas suci ini, temanku bertambah, begitu pula wawasan serta pengalaman yang luar biasa. Semua yang tak ku temukan di sekolahku dulu,sekarang ku temukan di sini. Tak terasa tiga tahun sudah ku lalui di dalam sekolah istimewa ini. Penuh berbagai warna. Langkah kaki telah membawaku berkelana di kelas-kelas yang berbeda dengan teman yang berbeda juga, tapi kini akhirku di sini, di kelas 9a. dengan 37 siswa di dalamnya, menciptakan perbedaan yang memunculkan keindahan darinya. Hubungan persaudaraan yang tidak diragukan lagi. Kelas adalah rumah ke dua setelah rumah kami masing-masing. Selama delapan jam dalam lima hari kita semua bersama terkunci dalam kenikmatan kala dilanda kehausan akan ilmu, terombang ambing dalam ombak harapan yang tak tahu kemana arah akhirnya, hanya menjalani itulah yang dilakukan selama ini meski entah sampai kapan terombang ambing di lautan ilmu ini.
Benar kata pepatah semakin kita mendapat banyak ilmu semakin ingin dan ingin kita mendapatkannya lagi, karena itulah yang memunculkan keyakinan bahwa pengetahuan kita tidak ada apa-apanya. Menurut saya, ilmu itu dinamis tapi bisa juga statis, tergantung dimana ia bersemayam dan dalam keadaan apa ia hadir di tangah ribuan asa yang terjuntai bebas di langit sana. Ilmu dinamis jika seseorang mengizinkannya tuk berkembang bahkan mengembangkannya baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain yang sama-sama haus akan kesejukan tetesan ilmu. Tetapi ilmu akan menjadi statis jika ilmu itu tak diberi ruang tuk berkembang dan tak dikembangkan dari satu orang ke orang lain,maka akan berhenti di sana, padahal tidak disadari dalam proses penyaluran ilmu dari satu orang ke orang lain itu membuat pengetahuan satu sama lain berkembang dan bertambah luas, karena dari sinilah mulai terjadi pertukaran gagasan yang nantinya akan menghasilkan suatu kebulatan utuh pemecahan dari suatu masalah yang dihadapi bahkan akan menimbulkan sesuatu yang tak diduga sebelumnya.
Begitu dasyatnya kekuatan nalar manusia kala ia haus akan ilmu dan wawasan, sel-sel otak bekerja keras mengirimkan sinyal kepada pusat dan menyalurkan informasi itu secara alamiah dan akan berakhir dengan hasil yang diinginkan. Sungguh kuasa ilahi sang pencipta tiada tandingnya, Ia mampu menciptakan manusia dengan sejuta kelebihan hanya dari segumpal darah, akal dan pikiran telah melekat di dalamnya, sistem-sistem berjalan secara amat rapi seperti halnya mesin bahkan lebih mutakhir, tapi dibalik semua itu manusia juga menyimpan banyak kekurangan yang akan membuat ia terpuruk.
Kekurangan itu terkadang muncul dari perasaan naluri anak adam alami dan tak akan bisa dihindari. Perasaan sedih, bahagia, kecewa, bangga, kagum, bahkan kesal berkecamuk memenuhi segenap sistem yang telah tersusun amat rapi ini. Perasaan inilah yang membawaku sejauh ini bersamamu teman-teman. Warna indah disetiap senyum yang kau rekahkan kala pagi membelai tubuh ini dengan angin sejuknya, sinar terang disetiap kata-kata yang terucap dari bibir mungilmu,yang menyalakan api semangat membakar halangan di hadapan. Sebesar apapun penghalang itu, jika kau disisiku sahabat semua kan kulalui dengan sepenuh hati. Karena engkaulah semangatku engkau juga guru terbaikku.
Ketika ragaku masih diambang pesimis kau hadir menghembuskan kedamaian. Tapi ku sadar semua ini tak akan berlangsung selamanya. Kita tak mungkin dapat setiap hari bertemu lagi. Setelah semua yang telah kita lalui bersama, kita harus rela pergi dari hal indah itu. Mungkin ini sudah jalan dari sang maha kuasa, di setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, meskipun terkadang perpisahan ini menyisakan luka yang sulit untuk terobati.
Bom waktu telah menunjukkan kehadirannya, ia seolah tak beri waktu tuk jumpa. Memang menyedihkan tapi ini harus dilalui demi cita-cita yang menunggu di langit ke tujuh di sana. Cita-cita yang menanti kita untuk menggapainya kelak. Ku tak percaya dengan semua ini, waktu begitu cepat berlalu lebih cepat dari kilat yang tergores di angkasa, lebih cepat dari lesatan roket yang kan memulai penerbangannya, lebih cepat dari gempuran nuklir yang meledakkan semua. Rasanya baru kemarin ku melangkahkan kakiku untuk pertama kalinya di tanah penuh harapan ini sekolahku tercinta. Rasanya baru kemarin ku berpenampilan dengan penuh keanehan karena ulah kakak senior. Rasanya baru kemarin ku membuka kertas buku yang masih putih untuk menggoreskan penaku mencatat pelajaran dari ibu dan bapak guru di kelas. Rasanya baru kemarin ku memberikan sedikit penghormatan bagi sang saka merah putih setiap hari senin bersama teman-temanku. Sungguh ku tak percaya kini semua itu akan menjadi kenangan yang hanya bisa ku kenang sendiri dalam sepi. Ku tak bisa lagi tersenyum ceria bersama sahabat-sahabatku dan melakukan semua bersama lagi.
Waktu benar-benar tak beri ruang tuk jumpa. Tapi semua yang telah kudapatkan di sekolah ini kan selalu ku kenang selamanya meskipun raga ini tak dapat jumpa setiap hari, namun hatilah yang kan berbicara meski jarak dan waktu memisahkan di hadapan, itu bukan halangan bagi kisah indah ini. Mozaik terindahku adalah ketika ku hadir dalam kisah indah ini bersamamu teman-teman, bersamamu sahabat, bersamamu ibu dan bapak guru. Terima kasih atas semua kesabaran dan ketulusan ibu dan bapak guru yang telah membimbingku penuh cinta selama 3 tahun ini. Engkau kan selalu menjadi pelita hatiku dengan kedasyatan ilmu yang telah kau berikan padaku. Tak kan kusia-siakan perjuanganmu, akan ku tanam benih ilmu ini agar kelak ku dapat memetik hasil yang manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar